JOGJA - Penggerobak atau transporter yang ditugaskan Pemkot Jogja untuk mengangkut sampah dari rumah ke rumah, meminta perhatian lebih kepada pemerintah. Pasalnya, sampai saat ada sejumlah kebijakan yang dirasa belum optimal, sehingga berdampak pada tugas transporter yang kurang maksimal.
Ketua Paguyuban Penggerobak Depo Utoroloyo Tupardi mengatakan, ada beberapa hal yang ditingkatkan oleh pemkot agar tugas transporter bisa lebih baik. Salah satunya penyediaan armada untuk melakukan pengangkutan rutin sampah yang ada di depo.
Tupardi menyebut, Depo Utoroloyo merupakan salah satu depo yang paling jarang disiagakan armada truk untuk mengangkut sampah. Sehingga berdampak pada sering menumpuknya sampah pada depo yang berada di Kampung Tompeyan, Tegalrejo itu.
Adapun selama ini Depo Utoroloyo hanya mengandalkan armada mobil pikap untuk mengangkut sampah depo. Penggunaan armada mobil tentu kapasitasnya tidak banyak. Hanya mampu mengangkut sampah dari lima sampai enam gerobak.
"Sehingga yang paling dibutuhkan penggerobak saat ini adalah armada. Agar jangan sampai di depo terjadi penumpukan, sekarang menumpuk karena jarang dijemput," ujar Tupardi saat ditemui Senin (17/3).
Selain itu, dia pun berharap para penggerobak dan petugas depo juga bisa dibekali alat pelindung diri (APD) kesehatan. Peralatan seperti sarung tangan dan sepatu boot sangat dibutuhkan. Sebab, petugas depo dan transporter selalu berjibaku dengan sampah yang berpotensi menyebarkan penyakit.
Tupardi pun ingin juga ada kompensasi dari pemkot bagi petugas Depo Utoroloyo. Sebab depo yang selama dikelolanya juga melakukan pengolahan sampah mandiri dengan cara dibakar. Dia menyebut, selama enam bulan terakhir belum ada bentuk kompensasi bagi petugas pembakar sampah.
“Kami hanya dapat subsidi solar. Tapi kalau solar kan tidak bisa nyala sendiri tanpa operator. Hampir enam bulan ini kami belum mendapatkan kompensasi,” terang Tupardi.
Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyampaikan, sampai saat ini sudah ada 1.017 penggerobak yang telah bekerjasama dengan pemkot. Dia menyebut jumlah transporter cukup wajar. Dikarenakan dari 616 RW, ada yang membutuhkan lebih dari satu transporter.
Hasto pun mengaku dirinya sebagai kepala daerah akan terus menjaring aspirasi dari transporter maupun pemulung. Sehingga kebijakan yang dikeluarkan oleh pemkot dapat benar-benar memfasilitasi aspirasi para petugas pengelola sampah itu. “Saya dalam membuat kebijakan pasti harus dekat, karena pemimpin harus melekat," katanya. (inu/laz)
Editor : Heru Pratomo