JOGJA - Program cek kesehatan gratis (CKG) yang menjadi arahan pemerintah pusat sepertinya kurang diminati oleh masyarakat Kota Jogja.
Sebab semenjak resmi dibuka pada pertengahan bulan Februari lalu, total masyarakat yang hadir untuk memeriksakan diri hanya berkisar 655 orang.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kota Jogja Waryono mengatakan, hingga pertengahan bulan Maret ini total pendaftar program CKG di 18 puskesmas tercatat ada 868 orang.
Dari jumlah itu tidak semuanya hadir, karena yang datang memeriksakan diri berjumlah 655 orang atau 75,5 persen dari total pendaftar.
Sementara untuk 213 pendaftar sisanya hanya melakukan janji temu.
Menurut Waryono, antusiasme masyarakat untuk memanfaatkan program CKG memang terbilang lumayan.
Itu nampak dari prosentase kehadiran masyarakat yang sudah mendaftar program arahan pemerintah pusat tersebut.
Meskipun, memang jumlahnya tergolong sangat sedikit jika dibandingkan populasi penduduk di Kota Jogja yang jumlahnya mencapai 375.699 orang (data dari Badan Pusat Statistik DIY).
Sebagaimana diketahui, program CKG sendiri resmi diselenggarakan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja pada tanggal 11 Februari 2025.
Program yang menjadi arahan Presiden Prabowo Subianto itu memiliki tujuan untuk memberi pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat di hari ulang tahunnya.
“Dengan jumlah kehadiran yang seperti itu, kami ada rencana untuk gerakan bersama,” ujar Waryono saat dikonfirmasi, Kamis (13/3/2025).
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Emma Rahmi Aryani membeberkan, program CKG merupakan salah satu upaya untuk melakukan skrining kesehatan.
Sehingga pemeriksaan yang dilakukan pun bertujuan untuk mencari indikasi kemungkinan penyakit yang diderita oleh masyarakat.
Emma menyampaikan, bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan program CKG bisa langsung mendatangi puskesmas.
Lalu dilanjutkan dengan pengisian formulir yang sudah disediakan dan baru bisa melakukan pemeriksaan dengan petugas kesehatan.
Apabila dalam proses pemeriksaan tersebut ditemukan indikasi penyakit parah.
Dia memastikan masyarakat bisa mendapatkan rujukan ke rumah sakit.
Sehingga upaya penanganan kasus-kasus penyakit parah bisa dilakukan secara cepat.
“Kalau memang ada indikasi untuk diperiksa misalnya kanker dan lainnya itu akan kami lanjutkan, tapi kalau memang tidak ada ya cukup skrining,” jelas Emma. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin