JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta meminta agar masyarakat waspada terhadap potensi hujan dengan intensitas tinggi. Dikarenakan kondisi cuaca yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor itu akan terus terjadi hingga April.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, berdasar pengamatan gejala fisis dan data dinamika atmosfer menunjukkan aktivitas angin monsun aktif. Kemudian indeks El Nino juga masuk dalam kondisi netral selama periode Maret hingga Mei tahun ini.
Lalu untuk Madden Julian Oscillation (MJO) pun terpantau cukup aktif di wilayah Indonesia. Sehingga mempengaruhi anomali suhu muka air laut di perairan selatan DIY yang masuk kategori dingin dibandingkan normalnya atau berkisar antara 28- 29 derajat celcius.
“Sehingga untuk curah hujan di DIY tiga dasarian ke depan diprediksi menengah,” ujar Reni, Senin (10/3/2025).
Dia merinci, untuk curah hujan di bulan Maret masuk kriteria menengah tinggi dengan sifat hujan bawah normal dan normal. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena intensitas hujan akan terus meningkat.
Misalnya pada bulan April, curah hujan diprediksi lebih tinggi karena masuk kriteria menengah-tinggi dengan sifat hujan seluruhnya normal. Sementara Mei mulai menurun karena masuk kriteria rendah-menengah dengan sifat hujan normal-atas normal.
Selama intensitas hujan tinggi itu, Reni meminta agar masyarakat waspada terhadap berbagai potensi bencana hidrometeorologi. Sebab cuaca ekstrim bakal terjadi di seluruh wilayah DIY.
“Selama masuk musim hujan harus waspada, karena akhir musim hujan diprediksi pada dasarian satu sampai dua Mei tahun 2025,” terangnya.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Darmanto menyatakan, cuaca ekstrim seperti hujan deras dan angin menjadi penyebab utama terjadinya talud longsor. Oleh karena itu dia menghimbau masyarakat yang berada di area rawan untuk lebih waspada dan selalu memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.
Darmanto berharap masyarakat terus memantau kondisi cuaca dan melaporkan setiap tanda-tanda kerawanan kepada pihak berwenang untuk menghindari dampak yang lebih besar. Sebab bencana seperti talud longsor cukup rawan terjadi di wilayah permukiman pinggir sungai. Apalagi selama tahun 2024 ada 18 kejadian talud longsor.
“Kami berkomitmen untuk terus melakukan koordinasi lintas perangkat daerah guna meminimalkan risiko bencana khususnya di wilayah Kota Jogja,” tegas Darmanto. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin