JOGJA - Mantan Bupati Kulonprogo periode 2011-2019 Hasto Wardoyo turut berkomentar soal dilucutinya simbol geblek renteng di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo. Hasto yang saat ini mengemban jabatan sebagai Wali Kota Jogja ini mengaku tidak mempermasalahkan kebijakan tersebut.
Hasto mengatakan, penanda daerah merupakan salah satu unsur penting karena dapat menjadi pembeda sekaligus kebanggaan masyarakat maupun pemerintah. Hal tersebut merujuk pada simbol geblek renteng yang dia perjuangkan hampir dua periode menjabat sebagai bupati Kulonprogo.
Kendati demikian, Hasto enggan mengkritik pelucutan simbol geblek renteng tersebut. Dia justru berpikir positif kalau nantinya kepala daerah yang baru di Kulonprogo akan melahirkan penanda yang lebih baik dari geblek renteng.
“Karena mungkin (Kulonprogo) juga butuh aktualisasi yang kekinian,” ujar Hasto saat ditemui seusai menghadiri kegiatan di Balai Kota Jogja, Jumat (7/3/2025)
Disinggung soal apakah menyesali kebijakan pelucutan simbol geblek renteng di tanah kelahirannya itu. Hasto mengaku tidak mempermasalahkan dan mengibaratkan bahwa simbol geblek renteng tersebut seperti karya seni yang tidak perlu disesali.
“Kalau nyesel tidak. Saya senyum aja lah,” lontar Hasto.
Hasto pun menceritakan, bahwa proses simbolisasi geblek renteng selama masa kepemimpinannya di Bumi Binangun juga bukan hal yang mudah. Dipilihnya simbol dari makanan khas Bumi Binangun itu juga melalui proses yang panjang serta sarat akan filosofi.
Dia mencontohkan, secara makna geblek sendiri memang tidak bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat. Sebab untuk seseorang dapat makan geblek juga membutuhkan selera tersendiri karena rasanya yang mungkin asing.
Namun di masa kepemimpinannya, simbol geblek renteng dikembangkan dalam motif batik. Sehingga dapat mengangkat ekonomi masyarakat melalui penjualan kain khas Yogyakarta itu. Oleh karena itu, dia berpesan agar simbol baru nanti harus memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding geblek renteng.
“Apalagi menyiapkan batik (pengganti geblek renteng) kan tidak cukup 1,5 tahun karena harus mengurus hak kekayaan intelektual juga. Kalau mulai dari nol, nanti di masa jabatan (bupati baru) sudah habis belum selesai kan repot,” sebut Hasto.
Hasto pun menegaskan, bahwa selama masa jabatannya sebagai wali kota dia tidak akan meninggalkan hal-hal baik yang sudah dibuat oleh kepala daerah sebelumnya. Misalnya seperti batik Segoro amarto, Gandeng Gendong, kemudian juga Sego Segawe.
“Menurut saya itu akan saya lanjutkan,” tegasnya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin