JOGJA - Yu Beruk (Sumisih Yuningsih) merupakan salah satu seniman yang mahir dan mendalami berbagai hal.
Mulai dari menari klasik Jawa, bermain ketoprak, wayang wong, hingga bermain peran dalam film dan teater.
Salah satu orang yang cukup mengenal Yu Beruk, baik dalam konteks personal maupun karya, adalah dosen seni tari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Daruni Yutta.
Daruni mengungkapkan, memori pertama yang diingatnya dengan Yu Beruk terjadi medio 1965.
Disebutkan, saat itu Daruni baru berusia lima tahun, di mana ia ikut menonton kelompok ketoprak humor, yang salah satu pemainnya adalah Yu Beruk.
"Pakde saya punya kelompok ketoprak yang saat itu pentas di Jakarta. Mbokde Beruk salah satu penampil, beliau masih gadis, usia 14 atau 15 tahun. Beliau yang momong saya saat itu," katanya kepada Radar Jogja, Jumat (21/2/2025).
Dari sana, kedekatan kian terjadi antara Daruni dengan Yu Beruk. Hubungannya pun jadi cukup personal.
Di mana Daruni menganggap Yu Beruk sebagai kakak, sekaligus salah satu mentornya dalam berkesenian.
"Akhirnya saya tahu bahwa bapaknya Mbokde Beruk itu ternyata teman akrab bapak saya," ujarnya.
Tahun demi tahun, Daruni berujar bahwa Yu Beruk kian aktif berkesenian, sehingga keduanya pun sempat cukup lama tidak bertemu.
"Yu Beruk itu menikah dengan bos kelompok ketoprak. Jadi beliau ikut main juga dan keliling dari kota ke kota di Indonesia. Itu terjadi cukup lama, beliau berkesenian keliling itu puluhan tahun," tambahnya.
Secara pribadi, Daruni mengaku ada banyak hal yang dipelajari dari Yu Beruk. Salah satunya ketangguhannya. Menurutnya, Yu Beruk adalah perempuan yang tangguh, keren, dan serba bisa.
"Seniman yang sangat adaptif, beliau melewati berbagai zaman, dan bisa bertahan sangat panjang karir keseniannya," sebutnya.
Secara personal, Daruni berpandangan Yu Beruk merupakan sosok orang yang sangat menyenangkan, ngemong dan mengayomi pada junior-junior nya juga.
Lebih lanjut, dalam konteks berkesenian, ia mengaku cukup banyak memiliki momen untuk tampil bersama Yu Beruk.
Salah satu yang cukup intens yakni sekitar tahun 2003, ketika Yu Beruk menginisiasi kelompok ketoprak Kartini Mataram.
"Dari sana kami ikon untuk tampil di banyak acara. Dari hari perempuan, hari ibu, dan berbagai peringatan atau acara kebudayaan.
Saya ingat salah satu penampilnya saat itu adalah Soimah. Waktu itu dia masih muda sekali," sambungnya.
Daruni memaparkan, salah satu hal yang sangat dikaguminya dari Yu Beruk adalah seluruh kemampuan berkeseniannya didapatkan secara otodidak, tanpa melewati proses pembelajaran formal sama sekali.
"Mbokde Beruk itu full belajar otodidak, dari lapangan dan sosial. Tidak ada pendidikan seni formalnya," ungkapnya.
Selanjutnya, Daruni menyebut Yu Beruk saat ini sedang dalam kondisi yang kurang ideal, karena sakit yang dideritanya.
Ia pribadi sempat menengok ke rumahnya sekitar Desember 2024 lalu.
"Kalau tidak karena sakit, beliau itu tetap berkesenian. Tidak ada kata pensiun juga untuk seniman," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita