Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Daya Beli Masyarakat Turun, Hotel dan Restoran Sesuaikan Paket Buka Bersama agar Tetap Terjangkau

Gregorius Bramantyo • Sabtu, 1 Maret 2025 | 06:12 WIB
SOSOK : Ketua DPD PHRI DIJ Deddy Pranowo Eryono. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
SOSOK : Ketua DPD PHRI DIJ Deddy Pranowo Eryono. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
JOGJA – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY menyebut adanya penurunan daya beli masyarakat pada bulan Ramadan tahun ini.
 
Kondisi tersebut disiasati oleh pelaku industri perhotelan dan restoran dengan menyesuaikan harga dan paket buka bersama (bukber) agar tetap sesuai dengan anggaran yang dimiliki masyarakat.

Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, ada berbagai paket bukber yang ditawarkan oleh hotel non-bintang hingga bintang lima.
 
Baca Juga: Tindak Tegas! Polresta Jogja Ingatkan Masyarakat untuk Tidak Bermain Petasan selama Ramadan, Ancaman Hukuman Penjara 20 Tahun bagi Pelanggar
 
Namun, mengingat penurunan daya beli masyarakat, pihak hotel dan restoran memilih untuk tidak memberikan harga yang terlalu tinggi.
 
“Kami menyesuaikan dengan daya beli masyarakat untuk menu buka bersama,” ujar Deddy, Jumat (28/2/2025).

Dia menyebut, menu dalam bukber yang dianggap terlalu mahal pun saat ini dihilangkan agar tetap sesuai dengan kondisi pasar.

Deddy mengungkapkan, meskipun pada awal Ramadan jumlah reservasi masih rendah, namun di pertengahan bulan atau minggu kedua, peminat bukber mulai meningkat.
 
Baca Juga: Mengenal Apry Adi Saputra, Mahasiswa UNY yang Sempat Kesulitan untuk Kuliah, Berhasil Lulus dengan IPK 3,99
 
“Biasanya baru terlihat hari kedelapan puasa, tapi kami belum memiliki data jumlah reservasi yang masuk,” katanya.

Dari segi jumlah peminat bukber, Deddy mencatatkan penurunan pada Ramadan 2024 dibandingkan dengan tahun 2023.
 
Penurunan ini disebabkan oleh daya beli masyarakat yang tertekan akibat pelemahan rupiah di pasar global dan kenaikan harga bahan baku.

"Waktu itu memang kami pusing. Tahun lalu itu menjadi evaluasi kami, dan tahun ini berusaha menyesuaikan dengan daya beli masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga: Meresahkan! Polresta Jogja Antisipasi Perang Sarung: Siagakan Patroli usai Tarawih hingga Sahur
 
Meskipun kondisi perekonomian Indonesia belum membaik, Deddy tetap optimistis bahwa minat masyarakat untuk buka bersama di hotel dan restoran bisa meningkat dibandingkan tahun lalu.

PHRI DIY tetap optimistis meski ada warning untuk mempersiapkan strategi agar dapat memaksimalkan pendapatan.
 
Salah satunya dengan menyesuaikan daya beli masyarakat. “Karena kalau nggak optimis, kami nglokro,” ucap Deddy.
 
Baca Juga: Pengembangan Kawasan Keburejo Dibahas dalam RKPD: Fokus pada Konektivitas Transportasi Jalur KA Prameks dan Trans Jateng

Dia juga menyebutkan, buka bersama di hotel sebenarnya merupakan salah satu cara untuk menutupi biaya operasional hotel yang biasanya rendah selama Ramadan. Serta untuk persiapan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi karyawan.
 
“Bukber itu untuk menutup operasional hotel dan jika ada sisa, bisa digunakan untuk persiapan THR,” ungkap Deddy.

Deddy juga mengingatkan, kebijakan efisiensi anggaran yang dikeluarkan lewat Instruksi Presiden (Inpres) No. 1/2025 menjadi salah satu peringatan bagi PHRI DIY. Mengingat daya beli yang semakin menurun.

Baca Juga: Dilantik Jadi Ketua Umum, Ipung Purwandari Bertekad Bawa FPTI Kota Jogja Lebih Berprestasi
 
Dia menambahkan, selama Ramadan biasanya banyak instansi yang mengadakan rapat sore hari sambil buka bersama.
 
Namun tahun ini hal itu jarang ditemui. Baik di Pemerintah Provinsi DIY, pemerintah kabupaten/kota, maupun luar daerah.
 
“Biasanya memang seperti itu, tapi kan sekarang nggak ada,” ujarnya. (tyo)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
#efisiensi anggaran #daya beli #phri diy #daya beli masyarakat #paket buka puasa #buka bersama #terjangkau #menurun #ramadan #hotel dan restoran