Efek Diskon Tarif Listrik Berkurang, Inflasi DIY Februari 2025 Diperkirakan Stabil
Gregorius Bramantyo• Sabtu, 1 Maret 2025 | 06:15 WIB
Meteran Listrik.
JOGJA – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY menyebut adanya penurunan pengaruh diskon tarif listrik terhadap inflasi Februari 2025.
Sebelumnya, diskon tarif listrik menjadi salah satu penyebab deflasi DIY sebesar 0,35 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm) pada Januari 2025.
Kepala Perwakilan BI DIY Ibrahim menjelaskan, pada Januari 2025 terjadi deflasi secara month-to-month (mtm).
Hal itu karena adanya kebijakan diskon tarif listrik yang tidak ada di bulan Desember 2024.
Kebijakan tersebut mulai berlaku pada Januari 2025 dan berlanjut hingga Februari 2025. Sehingga diperkirakan pengaruhnya akan berkurang pada Februari 2025.
Harga pangan di Februari 2025 juga cenderung stabil. Dia memperkirakan inflasi Februari 2025 tidak akan jauh berbeda dengan bulan sebelumnya.
"Diskon tarif kan sudah diterapkan pada Januari, jadi secara bulanan (Februari) akan stabil karena tidak ada perubahan," ujar Ibrahim, Jumat (28/2/2025).
Namun, dia menyebut jika dilihat dari sisi tahunan atau year-on-year (yoy), deflasi diperkirakan masih terjadi. Itu karena pada periode Januari-Februari 2024 tidak ada kebijakan diskon tarif listrik.
Ibrahim juga memberikan contoh dari sisi tahunan atau year-on-year (yoy) ketika dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada September 2022 yang mulai berkurang seiring berjalannya waktu.
Sehingga pada September 2023 kembali normal. "Begitu pula dengan efek diskon tarif secara tahunan yang akan hilang pada Januari 2026," katanya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Herum Fajarwati mengungkapkan, komoditas listrik memberikan andil deflasi 1,25 persen pada Januari 2025. Disusul tarif kereta api yang memberikan andil deflasi 0,02 persen.
“Sementara bawang merah, timun, dan angkutan antar kota masing-masing memberikan andil deflasi 0,01 persen,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, diskon tarif listrik sebesar 50 persen kepada pelanggan rumah dengan beban di bawah 2.200 VA pada Januari dan Februari 2025 memiliki andil yang besar.
Sebab, komoditas listrik pada konsumsi masyarakat di DIY terbilang cukup tinggi. “Sehingga pada Januari 2025 deflasinya cukup dalam," jelasnya. (tyo)