JOGJA - Hasto Wardoyo dan Wawan Harmawan resmi melaksanakan tugasnya sebagai wali kota dan wakil wali kota Jogja pada Jumat (21/2/2026).
Penanganan sampah diketahui menjadi program prioritasnya dalam 100 hari pertama pemerintahannya.
Hasto mengatakan dirinya akan fokus dalam menyelesaikan persoalan sampah. Terkhusus menghilangkan fenomena tumpukan sampah pada depo-depo. Serta sampah liar yang masih berserakan dan mengganggu kenyamanan masyarakat.
Dia mengakui memang lebih fokus terhadap pengangkutan sampah yang terlihat daripada membentuk model pengelolaan.
Sebab dalam membuat tata kelola sampah yang sempurna, memerlukan waktu yang tidak sebentar.
Apalagi budaya membuang sampah tanpa diolah sudah menjadi budaya masyarakat Kota Jogja .
Menurut Hasto, langkah itu juga tidak jauh dalam ilmu kedokteran. Permasalahan sampah liar dan penumpukan pada depo seperti fenotipe, yakni sebuah karakter yang dapat dilihat, diukur, atau diamati pada suatu organisme.
Sementara genotipe lebih rigid karena merupakan kumpulan gen dalam DNA yang menentukan sifat atau karakteristik unik suatu organisme.
"Untuk mengubah perilakunya atau genotipe butuh regulasi yang panjang. Namun untuk mengubah yang kasat mata atau fenotipe-nya bisa 100 hari. Meskipun belum 100 persen," ujar Hasto saat ditemui Radar Jogja Jumat (23/2/2025).
Selain menyiapkan program pembersihan sampah yang masih terlihat, mantan Bupati Kulon Progo ini juga melaksanakan koordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) di Pemkot Jogja.
Ini agar bekerjasama untuk menyelesaikan permasalahan sampah tanpa memandang bidang tugasnya.
Hasto pun menarget, selama masa kepemimpinannya jumlah sampah yang mampu diolah dapat menyentuh angka 230 ton atau hampir 80 persen dari total produksi sampah di Kota Jogja sebesar 300 ton.
Dalam mewujudkan hal itu, tentu perlu kerja sama dari berbagai pihak, termasuk masyarakat. Agar penanganan sampah bisa dilakukan dari hilir.
Dalam mengatasi sampah di tingkatan hilir, kata dia, masyarakat bisa membantu dengan cara memilah sampah.
Sehingga ketika dijemput oleh penggerobak atau transporter, sampah yang diambil sudah dalam keadaan siap olah.
Baik untuk dijadikan bahan bakar alternatif berupa refuse derived fuel (RDF) maupun dibakar di insinerator.
Diakui politisi PDI Perjuangan ini, membersihkan depo sampah secara keseluruhan memang bukan hal mudah.
Apalagi untuk saat ini ada sekitar 1.600 ton sampah yang masih tertahan pada depo. Namun dia optimistis sampah yang tertahan itu dapat diolah secara baik dan benar.
“Menurut saya minimal sehari 230 ton sampah diolah. Kalau tidak 230 ton, sulit menyelesaikan sampah di hilir," terangnya.
Selain program penanganan sampah, Hasto-Wawan juga akan melaksanakan beberapa program lain di 100 hari pertamanya.
Yakni satu kampung satu tenaga kesehatan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Serta one village, one sister university atau program revitalisasi kampung wisata dengan dengan kerja bersama universitas.
Hasto juga memiliki program open house yang dilaksanakan setiap hari Rabu untuk menampung berbagai aspirasi dan keluhan warga. Program ini direncanakan berjalan mulai Maret dan dimulai setelah subuh atau pukul 05.00-09.00.
Perihal lokasi open house, menurutnya, masih akan menyesuaikan dengan kondisi yang ada.
Namun sudah ada opsi untuk digelar di rumah dinas dan di Balai Kota Jogja.
Program ini diketahui juga sempat dijalankan Hasto selama masa kepemimpinannya di Kabupaten Kulon Progo.
"Kalau di Kulonprogo setiap hari Kamis. Ketika ada masyarakat yang ingin curhat, ya silakan curhat," tambah mantan ketua BKKBN yang berlatarbelakang dokter kandungan ini. (inu/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita