Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wujudkan Nazarnya, Brigitta Stellani Sukamto Beri Aplikasi Pengidentifikasi Uang kepada Tunanetra di Badan Sosial Mardi Wuto

Gregorius Bramantyo • Minggu, 23 Februari 2025 | 19:24 WIB
Photo
Photo

JOGJA - Brigitta Stellani Sukamto telah mewujudkan nazar tahunannya dengan memberikan bantuan kepada penyandang tunanetra di Badan Sosial Mardi Wuto, Sabtu (22/2/2025).

Bantuan diberikan lewat pemberian aplikasi pengidentifikasi uang bernama Cash Reader.

Stella berharap dapat memberikan dampak positif dalam kehidupan mereka yang jarang mendapatkan perhatian dari masyarakat umum.

Stella menjelaskan, dirinya memiki nazar setiap tahunnya.

Untuk tahun 2024, dia fokus memberi bantuan untuk tunanetra. Namun, baru bisa direalisasikan pada Februari 2025.

Untuk mewujudkan niatnya, Stella bekerja sama dengan founder aplikasi Cash Reader dari Republik Ceko.

Hal itu setelah dia mengetahui bahwa aplikasi ini merupakan yang paling banyak digunakan oleh penyandang tunanetra di dunia.

“Saya kontak foundernya untuk memberi beberapa kode aplikasi itu untuk Indonesia, karena tidak ada ambassador aplikasi itu di Indonesia,” katanya, Sabtu (22/2/2025).

Setelah itu, dirinya berhasil mendapatkan kode aplikasi yang dapat digunakan tanpa batasan waktu untuk para tunanetra di Indonesia.

Kode yang diberikan kepada Stella bentuknya berupa voucher link yang berbeda-beda dan hanya bisa dipakai satu kali.

Usai mendapat kode dari founder aplikasi, Stella pun membantu para difabel tunanetra di Mardi Wuto dalam mengunduh aplikasi resmi itu.

Stella menerima 15 kode Cash Reader yang diberikan oleh founder aplikasi.

Sebanyak 10 kode telah disalurkan kepada SLB Srumbung dan Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) di Jakarta.

Sementara 5 kode lainnya diberikan di Badan Sosial Mardi Wuto. “Karena saya domisili di Jogja, saya juga berikan ke sini (Mardi Wuto),” ucap Stella.

Aplikasi Cash Reader ini sangat dibutuhkan oleh tunanetra, terutama yang bekerja sebagai tukang pijat, untuk menghindari penipuan uang saat bertransaksi.

Di Badan Sosial Mardi Wuto, tunanetra telah menggunakan aplikasi tersebut, namun sebelumnya hanya versi bajakan yang rentan diblokir.

"Kendalanya aplikasi bajakan itu pasti lama kelamaan diblok,” kata Stella.

Aplikasi Cash Reader memungkinkan penggunanya mengenali berbagai mata uang dari seluruh dunia, termasuk rupiah, dengan menggunakan kamera smartphone.

Aplikasi ini mengumumkan nilai uang melalui suara, yang memberikan kemudahan bagi tunanetra dalam melakukan transaksi sehari-hari.

"Bagi saya, ini adalah nazar personal pertama. Saya ingin memberi kepada orang-orang yang jarang disentuh oleh masyarakat.

Kalau anak-anak di panti asuhan sudah sering mendapat perhatian, tapi tunanetra ini sering terabaikan," ujar Stella.

Bantuan yang diberikan oleh Stella ini berbentuk teknologi.

Mengingat latar belakang pendidikannya di bidang IT.

Selain itu, Stella juga merupakan founder di CV Madao Multi Jaya, sebuah perusahaan yang telah dia dirikan selama 15 tahun.

Perusahaan tersebut bergerak di bidang wholesale, khususnya plastik dan manufaktur, yang diekspor ke luar negeri.

Nantinya, pada akhir tahun 2025, Stella juga memiliki nazar dengan berencana berbagi kepada para tahanan di penjara.

"Tapi saya ingin mencari tahu terlebih dahulu apa yang mereka butuhkan,” imbuhnya.

Administrator Badan Sosial Mardi Wuto Sugeng Mulyanto mengatakan, sebelum ada aplikasi pengidentifikasi uang, para difabel tunanetra biasanya menggunakan cara manual untuk membedakan nominal uang.

Mereka mengukur lebar dan ketebalan uang kertas, lalu memperkirakan jenis uang berdasarkan ukuran tersebut.

“Ketika bepergian, mereka sudah memilah uang kertas, seperti yang nominalnya Rp 2 ribu, Rp 50 ribu, sampai Rp 100 ribu,” ujarnya.

Namun dengan munculnya aplikasi yang dapat membantu mengenali besaran angka uang, cara manual yang konvensional itu mulai ditinggalkan.

Sebelumnya, meskipun ada aplikasi pengidentifikasi uang, banyak dari mereka yang menggunakan versi bajakan karena harga aplikasi yang asli cukup mahal.

Kendala lainnya adalah aplikasi bajakan atau crack memerlukan pembaruan setiap jangka waktu tertentu.

“Alhamdulillah, sekarang sudah ada donatur yang membelikan aplikasi versi asli, tentunya sangat membantu teman-teman tunanetra. Harapannya, software ini bisa terus dikembangkan dan tersedia secara gratis untuk semua tunanetra," harap Sugeng. (tyo)

 

Editor : Bahana.