Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Selamat! Dekan Filsafat Sekaligus Istri Wamenkomdigi Nezar Patria Dikukuhkan Jadi Guru Besar UGM: Mendidik Manusia Bersama Mesin

Fahmi Fahriza • Jumat, 21 Februari 2025 | 05:30 WIB

 

 
HEADSHOT: Prof Murti yang merupakan istri Wakil Menteri Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI Nezar Patria ini, dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Filsafat Pendidikan UGM.
HEADSHOT: Prof Murti yang merupakan istri Wakil Menteri Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI Nezar Patria ini, dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Filsafat Pendidikan UGM.
 
JOGJA - Kawasan Balairung dan Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), kembali ramai dengan kehadiran para politisi, pengusaha, hingga sastrawan.
 
Mereka hadir pada acara pengukuhan Dekan Filsafat UGM Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih sebagai Guru Besar.
 
Beberapa tokoh yang hadir meliputi, Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI Meutya Hafid, Kepala Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Basuki Hadimuljono, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, Mantan Menteri Koordinator Politik Hukum, dan Keamanan RI, Prof Mahfud MD, hingga sastrawan Eka Kurniawan dan musisi Lilo Kla Project.
 
Baca Juga: Pieter Huistra Mengaku Sudah Identifikasi Masalah untuk Bisa Ambil Langkah Cepat Mengangkat PSS Sleman
 
Prof Murti yang merupakan istri Wakil Menteri Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI Nezar Patria ini, dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Filsafat Pendidikan UGM. 
 
Dalam upacara pengukuhannya, ia menyampaikan pidato berjudul, Mendidik Manusia Bersama Mesin: Filsafat Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan, yang berlangsung di Balai Senat UGM, Kamis (20/2/2025).
 
Ia mengungkapkan, kecerdasan buatan modern yang beroperasi, sebenarnya menggunakan model komputasional. Seperti jaringan saraf yang memproses data masukan untuk menghasilkan keluaran.
 
Baca Juga: Tanamkan Budaya Tertib sejak Dini, Polsek Sentolo Kenalkan Budaya Berlalulintas ke Anak-Anak PAUD
 
Meski sistem ini dapat mensimulasikan penalaran dan pengambilan keputusan seperti manusia, Murti menyimpulkan sistem ini tidak melakukan pemahaman yang sebenarnya, atau tidak menyiratkan bahwa model ini meyakini apa yang dihasilkannya. 
 
"Beberapa ahli membantah hal itu, sebab jika suatu entitas berperilaku seolah-olah punya keyakinan, maka masuk akal menganggapnya punya keyakinan," katanya.
 
Mempertimbangkan sejumlah pandangan tentang pengetahuan dan nilai, terutama dalam kaitannya dengan mesin, ia berpandangan bahwa di era kecerdasan buatan, ini kita sebaiknya bukan menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada mesin.
 
Baca Juga: Menjadi Calon Tunggal Ketua Umum KONI DIY, Paku Alam X Tinggal Ketok Palu Penetapan
 
"Namun juga bukan menolak begitu saja keterlibatan mesin dalam proses pendidikan," terang Murti.
 
Menurutnya, pelibatan mesin dalam proses pendidikan dapat memberi peluang model-model pembelajaran baru yang lebih kreatif.
 
Hal ini turut menawarkan pengalaman pembelajaran yang lebih dipersonalisasi, sesuai kebutuhan guru dan murid.
 
Bahkan, hasil pembelajaran yang diperoleh bisa menjadi bagian dari analisis data yang lebih inklusif. 
 
Baca Juga: Mengenal Nastiti Dyah Lestari, Mahasiswa Berprestasi dengan Segudang Kegiatan: Ini Dia Berbagai Capaiannya..
 
Salah satu cara menuju inklusivitas pendidikan, kata Murti, bisa dimulai dengan menghentikan sistem pendidikan kapitalistik, yang hanya mengkomodifikasi pengetahuan dan menjadikan siswa sebagai konsumen konten data digital.
 
"Sistem pendidikan kita perlu lebih membebaskan peserta didik, untuk berekreasi, berinovasi, termasuk dengan mesin," imbuhnya.
 
Sementara itu, Rektor UGM Prof. Ova Emilia mengapresiasi betul capaian Prof. Murti, dan membeberkan bahwa Murti merupakan salah satu dari 525 guru besar aktif yang dimiliki UGM.
 
"Selain itu, ia menjadi satu dari empat guru besar aktif dari 10 guru besar yang pernah dimiliki Fakultas Filsafat UGM," ungkapnya. (iza)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
#UGM #pengukuhan #Dekan Filsafat #Yogyakarta #guru besar #wamenkomdigi