JOGJA – Kunjungan dan belanja wisatawan yang tinggi selama 2024 di Kota Jogja, menjadi perhatian DPRD Kota Jogja.
Salah satunya, legislatif mendorong agar pendapatan dari sektor tersebut bisa turut mendukung program-program peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Wakil Ketua II DPRD Kota Jogja Triyono Hari Kuncoro mengatakan, sejauh ini besaran pendapatan yang dihasilkan dari sektor tersebut belum terlalu linier atau berkaitan terhadap kesejahteraan masyarakat.
Dampak dari kondisi tingginya wisatawan ke Kota Jogja hanya dirasakan segelintir pihak saja, seperti para pelaku usaha wisata besar.
“Signifikansi tingkat kunjungan wisatawan yang tinggi menurut saya belum berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat, manfaat hanya dirasakan sebagian pelaku usaha” ujar Kuncoro, Rabu (5/2/2025).
Oleh karena itu, politikus PKS itu mendorong agar pemkot bisa merumuskan kebijakan yang merata bagi semua pihak.
Sehingga dampak dari tingginya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Jogja pun dapat mengungkit ekonomi masyarakat secara umum.
Hal tersebut juga diamini oleh Anggota Komisi B DPRD Kota Jogja Ipung Purwandari.
Politikus PDI Perjuangan itu menilai, sampai saat ini penumpukan wisatawan hanya terpusat di wilayah Tugu Malioboro dan Kraton (Gumaton).
Sehingga destinasi wisata lain pun terkesan meredup.
Ipung pun mendorong agar pemerintah kota (pemkot) bisa memecah keramaian wisatawan agar tidak terpusat di Gumaton saja.
Salah satubya, bisa dengan mendorong wisatawan agar mengunjungi destinasi wisata di sisi selatan Kota Jogja. Yakni XT Square atau Pusat Aneka Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (Pasthy).
Upaya itu bisa dilakukan dengan menggandeng pelaku usaha wisata seperti tour guide dan bus pariwisata untuk mengarahkan wisatawan ke destinasi wisata lain. Dengan begitu, kunjungan wisatawan pun dapat merata.
“Dengan meratanya kunjungan wisatawan, harapan kami bisa meramaikan Kota Jogja dan tidak hanya terpusat di Malioboro saja,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Jogja Sri Arika Wahyuningsih membeberkan, kawasan Malioboro memang masih menjadi pusat kunjungan wisatawan di Kota Jogja.
Namun selain itu Keraton, Museum Sonobudoyo, Museum Benteng Vredeburg, Gembira Loka Zoo, dan Taman Pintar Yogyakarta juga cukup ramai dikunjungi.
Arika mengungkap, bahwa tren wisatawan yang berlibur di Kota Jogja mayoritas untuk menikmati wisata budaya dan sejarah.
Kemudian juga mencicipi kuliner khas, serta berbelanja souvenir di pusat-pusat perbelanjaan.
Adapun selama tahun 2024 Dispar Kota Jogja mencatat ada 10,9 juta wisatawan yang datang ke Kota Jogja.
Jumlah itu melampaui target lima juta wisatawan yang sebelumnya sudah ditetapkan.
Selain itu, belanja wisatawan juga meningkat selama satu tahun terakhir ini. Karena dari target yang ditentukan sebesar Rp 2 juta tercatat belanja wisatawan selama tahun 2024 mencapai Rp 2,259 juta.
"Kami terus berupaya menjaga kenyamanan wisatawan. Seperti pengelolaan arus lalu lintas, peningkatan fasilitas, serta promosi wisata yang lebih luas agar kunjungan wisatawan terus meningkat di masa mendatang," katanya. (inu/wia)