Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Badan Pusat Statistik Kota Jogja: Tidak Ada Inflasi pada Awal Tahun 2025, Ini Penyebabnya

Iwan Nurwanto • Senin, 3 Februari 2025 | 22:32 WIB
WASPADA INFLASI: Kepala BPS Kota Jogja Mainil Asni saat ditemui, Kamis (2/1/2025).  (IWAN NURWANTO/Radar Jogja)
WASPADA INFLASI: Kepala BPS Kota Jogja Mainil Asni saat ditemui, Kamis (2/1/2025). (IWAN NURWANTO/Radar Jogja)

JOGJA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja mengungkap tidak ada inflasi yang signifikan pada bulan Januari 2025.

Kondisi tersebut cukup berbeda dibandingkan tiga tahun terakhir.

Sebab kecenderungan setiap awal tahun selalu terjadi inflasi.

Kepala BPS Kota Jogja Mainil Asni mengatakan, tingkat deflasi pada bulan Januari 2025 diketahui menyentuh angka 0,35 persen dibandingkan bulan Desember 2024 lalu.

Menurutnya, ada berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya deflasi pada awal tahun ini.

Misal, karena penerapan promo pada tiket kereta api dan pesawat, serta diskon tarif dasar listrik yang menjadi kebijakan pemerintah pusat.

Kedua sektor tersebut memang menjadi penyumbang deflasi cukup besar.

Karena dari segi harga beli barang tentu lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Mainil menyebut, deflasi pada awal tahun ini juga merupakan catatan pertama kali setelah tiga tahun terakhir.

Lantaran berdasar hasil survei BPS Kota Jogja, tiap awal tahun cenderung selalu terjadi inflasi bukan deflasi.

“Faktornya karena listrik dan tiket transportasi yang diadakan promo, sehingga tidak mempengaruhi peningkatan harga barang atau inflasi,” ujar Mainil saat ditemui, Senin (3/2/2025).

Meskipun secara umum terjadi deflasi, kata dia, bukan berarti tidak ada komoditas di Kota Jogja yang mengalami kenaikan harga.

Baca Juga: Pemprov DIY Belum Terima Perintah Resmi dari Pusat, Kebijakan Larangan Penjualan Gas Melon Oleh Pengecer

BPS Kota Jogja mencatat kelompok makanan dan minuman menjadi penyumbang inflasi terbesar pada bulan Januari dengan angka 4,19 persen.

Kemudian disusul kelompok pakaian dan alas kaki dengan andil inflasi sebesar 1,94 persen.

Lalu kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga menyumbang inflasi sebesar 0,97 persen.

Mainil menilai, banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Kota Jogja pada akhir dan awal tahun menjadi penyebab beberapa komoditas tersebut sebagai penyumbang inflasi.

Di samping itu, kondisi musim penghujan juga berpengaruh terhadap ketersediaan barang atau komoditas pokok.

“Jadi ada gabungan penyebab inflasi karena meningkatnya kunjungan dan faktor alam."

"Beberapa komoditas seperti cabai sepertinya sulit dicari, walaupun tidak berlangsung lama,” terangnya.

Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Jogja Muhammad Zandaru Budi Purwanto mengungkapkan, selama tahun 2024 pihaknya mencatat ada 10,9 juta wisatawan yang datang ke Kota Jogja.

Jumlah itu melampaui target lima juta wisatawan yang sebelumnya sudah ditetapkan.

Zandaru mengungkap, pihaknya juga mencatat peningkatan belanja wisatawan selama satu terakhir.

Sebab, dari target yang ditentukan sebesar Rp 2 juta tercatat belanja wisatawan selama tahun 2024 mencapai Rp 2,259 juta.

“Sementara untuk length of stay dari target kami 1,8 hari tercapai 1,88 hari di tahun 2024,” terang Zandaru. (inu)

 
Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kota Jogja #survei bps #inflasi #promo #deflasi