JOGJA - Dinas Perhubungan (Dishub) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sedang dalam proses pematangan persiapan untuk menyambut mudik Lebaran 2025.
Dasar analisis menggunakan tren kenaikan jumlah kendaraan dan tren kejadian pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) tahun 2024 dan tahun sebelumnya.
"Maka tidak bisa menggunakan tren 100 persen, tapi saya kombinasikan dengan karakteristik pertumbuhan kendaraan Nataru tahun lalu dengan tahun 2024 kenaikannya berapa persen, polanya saat lebaran juga seperti itu," ujar Kepala Bidang Pengendalian Operasional Dishub DIY Sumariyoto saat dikonfirmasi, Senin (3/2/2025).
Koordinasi untuk mematangkan persiapan menyambut mudik lebaran mengacu pada data jumlah kendaraan saat libur Natarul tahun 2023 dan 2024.
Berdasarkan tren jumlah penumpang saat Nataru relatif sedikit, namun ia justru menumakan banyak pengguna kendaraan pribadi.
Sesuai dengan wewenangnya, Dishub DIY lebih mengurusi pada kendaraan.
Jadi lebih pada memastikan kendaraan khususnya angkutan umum telah mengantongi izin operasional yang lengkap dengan pengecekkan pada saat patroli.
"Itu otoritasnya lebih kepada temen-temen di kepolisian terkait pengaturan lalu lintas di jalan," katanya.
Kemungkinan beroperasinya exit tol di daerah Prambanan saat lebaran tahun 2025 juga sedang menjadi topik pembahasan pihak Dishub.
Saat ini dishub sedang mencari informasi lebih lanjut lagi terkait fungsional exit tol tersebut.
"Info awalnya itu kan bisa difungsikan, tapi melihat progress-nya kepastiannya kapan juga belum tahu," tuturnya.
Ia tidak menampik adanya potensi lonjakan jumlah kendaraan di DIY apabila exit tol tersebut sudah difungsikan terlebih saat momen mudik lebaran yang akan tiba dalam waktu dekat.
Saat ini Disbub DIY sedang melakukan rapat untuk mematangkan persiapan menyambut libur mudik lebaran.
Beberapa catatan hasil evaluasi dari Dishub DIY di antaranya penemuan penyebab kemacetan kendaraan saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Kepadatan kendaraan terutama terjadi di jalan Jogja-Solo.
"Ruas jalan yang padat terutama di Pintu Timur Prambanan, Sleman, dan bagian utara, yakni Tempel, Sleman," ujarnya.
Penyebab kemacetan disinyalir salah satunya terkait banyaknya kendaraan yang parkir tidak pada tempatnya, khususnya di toko oleh-oleh.
Beberapa toko oleh-oleh mempunyai lahan parkir yang terbatas, bahkan tidak mempunyai lahan parkir.
"Kasus tersebut banyak terjadi di ruas jalan Jogja-Solo."
"Di sepanjang jalan tersebut banyak terdapat toko oleh-oleh yang kebanyakan dikunjungi wisatawan saat Nataru," tuturnya.
Mengantisipasi itu, Dishub DIY selalu melakukan patroli untuk memastikan kelancaran lalu lintas di jalan.
Apabila mendapati kasus semacam itu, petugas lantas menegur pemilik kendaraan atau pengelola toko agar segera memindahkan kendaraannya di lokasi yang tidak menganggu arus lalin.
"Paling padat kendaraannya memang di jalan Jogja-Solo," bebernya.
Faktor selanjutnya yakni kendaraan yang berputar balik melewati U Turn.
Kendaraan tersebut otomatis menganggu laju kendaraan lainnya dan menyebabkan perlambatan hingga kemacetan.
Padahal, pihak kepolisian telah menutup beberapa U Turn saat Nataru.
"Tapi ada oknum masyarakat yang nekat membukanya," tegasnya.
Contohnya di traffic light, Proliman, Kalasan yang juga telah ditutup oleh kepolisian dan hanya dibuka untuk arah timur dan barat.
Tujuannya agar tidak ada crossing kendaraan di lokasi tersebut.
Ia juga menyoroti kepadatan kendaraan saat Nataru di objek wisata Parangtritis, Bantul.
Bahkan di lokasi tersebut sempat terjadi antrean kendaraan sepanjang 500 meter.
Namun, kemacetan terjadi di waktu-waktu tertentu.
"Wisatawan banyak berkunjung antara pagi atau sore untuk melihat sunset," terangnya.
Kasat Lantas Polresta Sleman, AKP Mulyanto menambahkan situasi lalu lintas saat Natal dan Tahun Baru (Nataru) dan libur oanjang Isra Mikraj dan Imlek tidak ada kemacetan di wilayah Prambanan.
Namun ia tidak memungkiri adanya kepadatan arus yang salah satu faktornya karena fungsional tol di Klaten.
"Bisa dipastikan iya, karena masyarakat cenderung memanfaatkan fasilitas tol yang membantu lebih cepat ke Jogja ataupun sebaliknya," ujarnya.
Terkait dengan exit tol, pihaknya belum mengetahui lebih lanjut apakah akan difungsikan saat momentum lebaran.
Selanjutnya untuk memecah potensi kepadatan kendaraan di Prambanan saat lebaran, dirinya akan lebih intens berkoordinasi dengan pihak kepolisian di wilayah Klaten, Jawa Tengah.
"Pemberdayaan anggota secara maksimal baik anggota Polres atau Polsek," tuturnya.
Pihaknya juga tidak menutup kemungkinan akan melakukan pengarahan kendaraan menuju jalur-jalur alternatif untuk memecah kepadatan.
Namun pembahasan persiapan lebaran belum selesai dan masih bergulir hingga saat ini.
"Pos PAM lebaran tentunya akan didirikan di daerah Prambanan saat lebaran nanti," jelasnya. (oso)