Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dua Bibit Siklon Tropis Tumbuh di Samudra Hindia, BMKG Yogyakarta: Potensi Bencana Hidrometeorologi Meningkat

Iwan Nurwanto • Minggu, 2 Februari 2025 | 21:52 WIB
Ilustrasi cuaca ekstrem.
Ilustrasi cuaca ekstrem.

JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengungkap ada pertumbuhan dua bibit siklon tropis 99S dan 90 di Samudra Hindia.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi di beberapa daerah di DIY.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan, dari hasil pantauan pihaknya bibit siklon tropis 99S terpantau muncul di wilayah selatan Banten.

Tepatnya di 14.6°LS, 103.9°BT dengan kecepatan angin maksimum 30 knot (56 km/jam) dan tekanan minimum sekitar 997 hPa.

Kemudian untuk bibit siklon tropis 90S terpantau muncul di wilayah Samudra Hindia sebelah selatan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tepatnya di 13.4°LS, 119.5°BT dengan kecepatan angin maksimum 30 knot (56 km/jam) dan tekanan minimum sekitar 996 hPa.

Menurut Warjono, kehadiran bibit siklon tropis 99S dan 90S di Samudera Hindia Selatan Jawa berpotensi menyebabkan pola belokan angin.

Sehingga dapat berpotensi meningkatkan curah hujan wilayah DIY pada periode bulan Februari 2025.

“Apalagi untuk wilayah DIY sudah memasuki musim penghujan didukung dengan monsun Asia yang sudah aktif."

"Sehingga menambah suplai uap air di wilayah Yogyakarta,” ujarnya Minggu (2/2/2025).

Pejabat yang akrab disapa Jojo itu pun mengingatkan, dengan meningkatnya intensitas hujan harus diwaspadai oleh masyarakat maupun stakeholder terkait di daerah.

Sebab kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi.

Guna menghadapi potensi cuaca ekstrem BMKG mengimbau, agar masyarakat untuk mengantisipasi risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan genangan air di wilayah rawan.

Lalu membersihkan saluran air di lingkungan sekitar agar mengurangi risiko banjir. 

Sementara ketika sedang tidak hujan, Jojo menekankan, masyarakat juga perlu memastikan drainase pada dan di sekitar lereng berfungsi dengan optimal.

Serta tidak melakukan penggalian pada lereng-lereng di kawasan rawan tanah longsor.

Kemudian juga Mewaspadai apabila terjadi tanda-tanda lereng akan longsor.

“Kami juga mengimbau agar masyarakat menghindari atau menjauhi dari lokasi rawan longsor ketika mendung mulai gelap atau saat mulai hujan rintik."

"Serta mempersiapkan perlengkapan darurat,” pesannya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat menyampaikan, pihaknya terus berupaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Salah satunya dengan pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB).

Nur menjelaskan, FPRB di Kota Jogja sejatinya sudah terbentuk kepengurusannya melalui kongres FPRB yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2024 lalu.

Namun, memang harus dikuatkan karena belum lengkap secara struktural karena harus melengkapi unsur kesekretariatan dan anggota.

Dalam penguatan FPRB tersebut nantinya juga akan melibatkan berbagai unsur.

Seperti Kampung Tangguh Bencana (KTB), Tim Reaksi Cepat (TRC) serta relawan.

Sehingga kehadiran FPRB dapat menjadi wadah komunikasi terkait dengan penanggulangan bencana di Kota Jogja.

“Intinya bagaimana nantinya upaya mitigasi semakin optimal, apalagi tantangan bencana semakin komplek,” beber Nur. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kota Jogja #tangguh bencana #Cuaca Ekstrem #bencana hidrometeorologi