JOGJA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menilai rencana proyek Jogja Outer Ring Road (JORR) menjadi salah satu solusi mengantisipasi kepadatan lalu lintas.
Namun wacana tersebut sejak muncul sekitar tahun 2017, hingga kini tak kunjung direalisasikan.
"Belum bisa dieksekusi tahun ini, dalam artian masih menjadi komitmen Gubernur DIY untuk mengimplementasikan JORR," ujar Kepala Badan Perencanaan Riset dan Inovasi Daerah (Baperida) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti saat dikonfirmasi, Minggu (2/2/2025).
Namun ia memastikan rencana proyek JORR masih sesuai jalur, khususnya dalam desain perencanaan.
Beberapa kendala yang dialami di antaranya adalah persoalan anggaran.
Terlebih anggaran yang diterima daerah tahun ini dengan adanya pemotongan dan refocusing dari pemerintah pusat.
"Adanya Inpres (Intruksi Presiden) Nomor 1 Tahun 2025, banyak hal yang perlu dilihat lagi termasuk efisiensi-efisensinya," tuturnya.
Rencana Proyek JORR akan membentang sepanjang 113,413 kilometer, terbagi menjadi dua bagian utama.
Bagian utara sepanjang 65,933 km akan menghubungkan Sentolo, Minggir, Tempel, dan Kalasan.
Sementara itu, bagian selatan sepanjang 47,48 km akan melintasi Sentolo, Imogiri, Piyungan, dan Kalasan.
Namun itu juga masih dinamis karena belum ada realisasinya.
"Sebenarnya (rencana) itu kan sudah lama dari Prambanan sampai ke Turi, Bantul dan lain-lain."
"Tapi kan semua tergntung dari sisi pembiayaan juga," terangnya.
JORR bertujuan untuk mengurai permasalahan kepadatan kendaraan yang mengakibatkan kemacetan.
Gambaran teknisnya yakni dengan mengalihkan arus kendaraan dari pusat Kota Jogja ke jalur alternatif yang lebih luas.
"Memecah kemacetan, agar tidak semua kendaraan besar masuk ke Kota Jogja," tegasnya.
Otomatis konektivitas antarkota dan wilayah luarnya akan lebih meningkat, yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi.
Maka dari itu, Ia menilai rencana pembangunan proyek JORR merupakan suatu hal yang mendesak.
"Kalau bicara (situasi) transportasi yang sekarang, saya kira mendesak, perlu ada peralihan atau pembagian untuk jenis-jenis kendaraan yang lewat," jelasnya.
Kondisi kepadatan lalu lintas di DIY juga kerap terjadi, terlebih saat momentum libur panjang.
Data libur Natal dan Tahun Baru lalu, Dinas Perhubungan (Dishub) DIY mencatat 2,7 juta kendaraan pribadi keluar-masuk dari tanggal 24 Desember 2024 hingga 4 Januari 2025.
Lalu dari pergerakan masyarakat terdapat 9,5 juta orang.
"Detailnya 4,8 juta orang masuk dan 4,7 keluar," ujar Kepala Bidang Pengendalian Operasional Dishub DIJ Sumariyoto. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin