KULON PROGO - Warga Padukuhan Gayam, Kalurahan Banyuroto digegerkan pencemaran sungai, Selasa (28/1) sore. Sumber pencemaran berasal dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banyuroto yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari sungai.
Tokoh masyarakat Kalurahan Banyuroto Bambang Nurcahyo menyampaikan kejadian tercemarnya Sungai Anak Kali Serang. Sekitar pukul 14.00 WIB warga Gayam menemukan adanya perubahan warna pada sungai. Biasanya sungai tersebut jernih, apalagi cuaca di Banyuroto cerah."Jadi bukan karena banjir merubah warna, itu lindi dari TPA warnanya hitam," ucap Bambang, Rabu (29/1).
Bambang menyampaikan, kejadian tercemarnya bukan hanya kali ini terjadi. Sejak 2014 hingga sekarang, pencemaran terjadi setiap musim hujan tiba. Namun, tahun 2025 pencemaran tergolong parah. Lantaran, sifatnya sangat merusak ekosistem sungai.
Dugaan warga, sumber lindi berasal dari kebocoran pipa dan bak penampung lindi. Saat musim hujan bak penampung terkadang penuh hingga meluber ke beberapa lokasi. Bahkan sebagian warga mengaku melihat lindi dari tumpukan sampah tak diolah dan langsung dialirkan ke saluran air."Kami sudah berusaha menyampaikan ke UPT terkait," ucapnya.
Bambang berharap, kejadian itu tak terulang kembali. Lantaran, sungai telah tercemar membuat ekosistem lingkungan terganggu. Masyarakat berharap agar pihak terkait turun tangan dalam mrngolah lindi sampah secara optimal dan sesuai SOP.
Sementara itu, warga Padukuhan Gayam Marmo menyampaikan kekecewaanya. Pasalnya, dia menyaksikan janji pemerintah untuk mengolah lindi sebelum masuk ke sungai. Janji dikeluarkan saat pembangunan, dan saat tahun 2024 pencemaran terus terjadi."Janjinya dulu akan diolah, nyatanya sampai sekarang tidak," ucapnya.
Bukan hanya sekali dua kali, pencemaran sungai hampir setiap tahun terjadi. Namun, pencemaran kali ini membuat kerusakan pada sungai. Bahkan sungai sempat menghitam selama satu malam. Mengakibatkan ratusan ikan penghuni sungai mati mendadak. Warga menunjukkan ratusan ikan yang mengambang dan dilaporkan ke pihak TPA.
Baca Juga: Minim Serapan, Alokasi Pupuk Subsidi 2025 di Kulon Progo Mengalami Penurunan
Sebenarnya warga tak mempermasalahkan keberadaan TPA. Hanya saja warga meminta pengolahan sampah dilakukan secara serius. Lantaran, dampak TPA tak hanya menimbulkan bau tak sedap. Namun juga dampak sosial dan lingkungan."Kalau begini terus, mending ditutup saja," ujarnya. (gas)
Editor : Din Miftahudin