JOGJA - Momen libur panjang Isra Mikraj dan Imlek menjadikan sebagian pedagang Teras Malioboro (TM) di Ketandan banyak dikunjungi wisatawan. Berkebalikan, lokasi baru Teras Malioboro di Beskalan masih relatif sepi pengunjung.
"Namanya baru babat alas, hal seperti (sepi) ini lumrah terjadi," ujar Wahid, salah seorang pedagang sandal di TM Beskalan saat ditemui di lapaknya Selasa (28/1/2025).
Selama seminggu jualan di lokasi ini, ia mengaku belum mendapatkan pelanggan walaupun hanya satu. Padahal banyak wisatawan yang memenuhi sepanjang Jalan Margo Utomo (Malioboro), namun itu tidak dirasakan bagi pedagang di TM Beskalan.
Menurutnya, salah satu faktor sepinya pengunjung karena belum adanya akses menuju lapak pedagang yang belum memadai. Padahal di sisi selatan, khususnya di lapak kuliner dan pedagang yang lebih dulu menempati, terlihat banyak dikunjungi wisatawan.
"Lha (pengunjung) mau lewat mana, belum ada akses. Yang paling utama kan itu. Kalau lewat gerbang depan kan sudah pada beli ke pedagang yang dekat sana," tuturnya.
Dalam desain pembangunan yang ditempelkan di dinding TM Beskalan, gerbang masuk di lokasi baru nantinya akan berada di sisi utara, yakni masuk melalui Jalan Beskalan. Namun proyek itu hingga saat ini masih dalam proses pengerjaan dan belum selesai. "Pelan-pelan, baru proses pengerjaan oleh pemerintah," bebernya.
Ia tidak menampik kondisi pedagang TM Beskalan khususnya di lokasi baru sedang tidak baik-baik saja. Namun dirinya optimistis jika pembangunan selesai dan penataan berjalan semestinya, ekosistem perdagangan perlahan akan bangkit. "Saya yakin pemerintah juga tidak terus diam melihat pedagang yang masih seret," tegasnya.
Di usianya yang sudah tua, ia mengaku lebih santai dalam menanggapi kondisi jualan yang ia alami. Menurutnya, informasi penyelesaian gerbang kemungkinan pada Februari mendatang. "Harapannya sih sebelum puasa bisa selesai. Kami juga mantau terus prosesnya," katanya.
Penataan di lokasi baru itu lebih merata. Konsep lapak bukan lagi lorong-lorong, melainkan menyebar. Itu dinilai berpotensi bisa meratakan penjualan pedagang di setiap lapak. "Bukan hanya di bagian depan saja, tapi bisa merata, harapannya gitu," ujarnya.
Dari penglihatannya, para pedagang lain di lokasi itu selama seminggu ini juga terlihat belum mendapatkan pelanggan. Namun para pengunjung sudah mulai menengok lokasi baru itu.
Dalam sehari dihitung ada lebih dari 50 pengunjung yang jalan-jalan di lokasi ini. "Jadi banyak yang masuk cuma duduk-duduk atau nongkrong," kelakarnya.
Terpisah, salah seorang pedagang kaos-kaos khas Jogja di TM Ketandan yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, selama libur panjang pengunjung di lapaknya relatif meningkat. Pengunjung mayoritas wisatawan dari luar DIY. "Omzet paling tinggi selama seminggu ini Rp 2,2 juta per hari," ungkapnya.
Namun saat awal berjualan, dalam sehari hanya mendapatkan omzet Rp 120 ribu-Rp 200 ribu dalam sehari. Ia juga menilai pengelola harus lebih menata kaitannya dengan sirkulasi pengunjung.
Hal itu karena banyak lapak yang sepi karena sirkulasi kurang teratur. "Ada tembok depan itu, kalau boleh usul dibongkar saja. Jadi sirkulasi pengunjung lebih tertata," jelasnya. (oso/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita