Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Belalang, Jangkrik, hinga Laron Memungkinkan Jadi Menu MBG, Bergizi Tinggi, Bisa Diterapkan di Wilayah Tertentu

Agung Dwi Prakoso • Senin, 27 Januari 2025 | 23:49 WIB
Ilustrasi olahan menu jangkrik.
Ilustrasi olahan menu jangkrik.

JOGJA - Ahli Gizi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Toto Sudargo mengomentari rencana serangga dijadikan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Komentar tersebut muncul usai pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana yang menjadi ramai diperbincangkan. 

"Jadi kalau kami lihat beberapa wilayah, sebenarnya dasar dari Pak Dadan mau memasukkan serangga sebagai makanan bergizi itu boleh-boleh saja," ujar Toto Sudargo saat dikonfirmasi, Senin (27/1/2025). 

Serangga, termasuk belalang yang banyak ditemukan di daerah Gunungkidul, Jogja, dinilai mempunyai rasa yang gurih. Makanan yang sudah populer di Gunungkidul tersebut beragam cara olahannya. Namun, ketika digoreng matang, Toto menilai kandungan histamin yang membuat alergi bisa hilang. 

"Kalau digoreng kering itu ada kelebihan dalam kalsium karena tulang belalang bisa langsung dikonsumsi," tuturnya. 

Kandungan gizi dalam belalang salah satunya dalam lemak saat dimasak dengan cara digoreng. Kemudian dalam belalang juga terdapat protein hewani yang berfungsi sebagai hormon pertumbuhan. Bagus untuk memperbaikan jaringan rusak dan alat angkut mineral tertentu dalam tubuh sehingga tidak kekurangan zat gizi. 

"Misalnya anemia lalu kekurangan vitamin A dalam tubuh, zodium untuk pertumbuhan. Itu baik-baik saja," jelasnya. 

Tak hanya belalang, beberapa jenis serangga lain juga dimungkinkan untuk menambah gizi dalam tubuh. Ia menilai mulai dari jangkrik hingga laron juga bisa dan mengandung nilai gizi. 

"Jangkrik bisa, laron bisa, itu yang lazim dimakan oleh manusia dan oleh wilayah di sekitar daerah tersebut," bebernya. 

Menurutnya, apabila diberlakukan, teknis pelaksanan lebih efektif hanya diterapkan di wilayah habitatnya yang tinggi. Masyarakat di wilayah tersebut juga relatif biasa mengonsumsi serangga tersebut. 

"Itu pun pengolahannya harus baik," jelasnya. 

Hal itu karena kebanyakan belalang terdapat penyakit salmonelas tiposa. Belalang banyak makan di tempat kotor seperti kotoran sapi hingga humus di persawahan. Selain itu, histamin penyebab alergi juga dinilai tinggi sekali apabila pengolahannya tidak bagus. 

"Itu harus dikerjakan oleh pemasak yang profesional sehingga aman untuk dikonsumsi," bebernya. 

Ia mencontohkan olahan seperti serangga jenis laron yang memungkinkan untuk dibuat pepes laron. Hal yang demikian juga berlalu untuk belalang dan juga jangkrik. 

"Memungkinkan sekali itu, karena ada satu wilayah di mana produksi belalang cukup tinggi," ujarnya. 

Menurutnya kandungan gizi dalam belalang tidak diragukan lagi. Dalam 100 gram belalang yang digoreng itu terdapat sekitar 12-15 gram protein. Artinya akan menyumbang sepertiga dari kebutuhan protein yang dibutuhkan. (oso) 

 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Mbg #laron #Belalang Beracun #Makan Bergizi Gratis #jangkrik #Belalang