Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Masyarakat Keluhkan Biaya Pemakaman di Kota Jogja hingga Rp 8 Juta, Sempat Terbesit Kuburkan Istri di Dalam Rumah

Adib Lazwar Irkhami • Senin, 27 Januari 2025 | 14:30 WIB

 

Pemakaman umum di tengah Kota Jogja yang telah padat.
Pemakaman umum di tengah Kota Jogja yang telah padat.

JOGJA - Ketersediaan lahan makam di beberapa lokasi tempat pemakaman umum (TPU) di Kota Jogja telah mengkhawatirkan. Bukan karena tidak layak, tapi memang karena kekurangan lahan.

Keterbatasan lahan itu sering menjadi keluhan masyarakat di kota ini. Selain lahan yang semakin habis, mahalnya biaya pemakaman juga tidak jarang menjadi sorotan dan keluahan di masyarakat.

Salah satunya yang dialami Baharuddin Sutawijaya, warga Glagahsari RT 12, Warungboto, Umbulharjo, Kota Jogja. Ia pun mengeluhkan mahalnya biaya pemakaman di area Kota Jogja.

Menurut Baharuddin, di Kota Jogja sendiri untuk biaya pemakanan, beberapa tahun lalu sudah mencapai angka Rp 6 juta-Rp 8 juta. Itu baru untuk memakamkan. Masih ada biaya bedah bumi sekitar Rp 1,3 juta-Rp 1,5 juta.

Jika ada kerabat atau keluarga yang dimakamkan di Kota Jogja, ada iuran per tahun sekitar Rp 50 ribu. Biasanya iuran dilaksanakan setiap bulan ruwah. Nanti para ahli waris dikasih selebaran semacam undangan untuk dimintai uang retribusi. Tapi itu bisa diwujudkan beras.

Uang-uang itu, menurut Baharuddin, biasanya dikelola olah paguyuban pengurus makam. Untuk uang-uang retribusi nanti ada yang dikasih ke juru kunci makam dan untuk kebersihan makam.

Ia mengakui secara pribadi keberatan dengan dana pemakaman yang mencapai angka hingga Rp 8 juta itu. Dengan nominal sebesar itu dan sedang dalam kondisi berduka, menjadi beban yang mau tidak mau harus dilaksanakan. "Itu harus cash dan tidak bisa dicicil seperti motor," ucapnya kepada Radar Jogja, Minggu (19/1/2025).

Baharuddin sendiri memiliki pengalaman saat istrinya meninggal dunia pada 2022 lalu. Ketika tahu harga pemakaman sampai Rp 6 juta-Rp 8 juta, ia kecewa. Pria 45 tahun ini bahkan sempat terbesit ingin memakamkan istrinya di dalam rumah.

"Tapi, dulu alhamdulillah ada hamba Allah yang sudah back-up semua. Saya dibantu. Jadi, semua terkondisikan," ungkapnya.

Sebagai warga yang telah mengalami pengalaman itu, Baharuddin mengaku keberatan dengan dana pemakaman yang termasuk mahal itu. Sebagai warga Kota Jogja, ia ingin ada kepengurusan yang jelas untuk mengurus sebuah pemakaman. "Kalau ada kepengurusan, saya ingin dana itu bisa diminimalkan dan tidak terlalu dikomersilkan," tandasnya.

Selain itu, Baharuddin juga mengatakan jika di Kota Jogja sudah memiliki wacana menggunakan makam tumpuk untuk solusi minimnya lahan pemakaman di Kota Jogja. Maka, hal itu harus dipikirkan dengan matang.

Sebab, meski makam tumpuk bisa menjadi solusi, tetap ada hal-hal yang harus dicermati lagi. Ini karena nanti akan berkaitan dengan para ahli waris yang bersangkutan terhadap makam itu.

"Karena makam tumpuk, nanti bisa jadi satu keluarga tidak akan masalah. Tapi kalau yang ada di makam tumpuk itu ada beberapa keluarga dan ada yang ziarah, itu bisa bingung," tandasnya. (ayu/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#tempat pemakaman umum (TPU) #Kota Jogja #biaya pemakaman #makam tumpuk #pemakaman #makam #lahan #Ketersediaan #keterbatasan lahan #keluhan #Iuran #masyarakat