Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Keraton Jogja Gelar Acara Peksi Burak, Tradisi Tahunan untuk Peringati Isra Mikraj

Agung Dwi Prakoso • Senin, 27 Januari 2025 | 04:23 WIB

RANGKAIAN ISRA MIKRAJ: Abdi dalem Keraton Jogja sedang mengarak Peksi Burak menuju Masjid Gedhe Kauman Minggu (26/1/2025).
RANGKAIAN ISRA MIKRAJ: Abdi dalem Keraton Jogja sedang mengarak Peksi Burak menuju Masjid Gedhe Kauman Minggu (26/1/2025).
  

JOGJA - Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat melaksanakan hajad dalem Yasa Peksi Burak untuk memperingati peristiwa Isra Mikraj Minggu (26/1/2025). Peksi Burak yang dibuat dari buah dan kulit jeruk bali diarak dari Keraton Jogja menuju Masjid Gedhe Kauman.

Yeksi Burak merupakan acara tahunan yang diselenggarakan di Keraton Jogja. Salah satu ciri khas dalam acara ini adalah, pembuatan Peksi Burak. Yasa berarti membuat atau mengadakan. Peksi adalah burung. Burak adalah Buraq, makhluk yang diyakini menjadi kendaraan Nabi saat melakukan Isra Mikraj.

"Peksi Burak adalah rangkaian bahwasanya diwujudkan dalam waktu Nabi Muhammad SAW. Dalam bahasa Jawanya tindak ke langit ke 7 pakai Peksi Burak," ungkap Kahartakan 1 Urusan Pengulon KMRT Sarihartoko Dipuro saat ditemui di Dalem Pengulon, Minggu (26/1/2025).

Rangkaian acara Peksi Burak dilaksanakan di Bangsal Sekar Kedathon yang dilakukan tertutup. Sekitar pukul 15.30, Peksi Burak kemudian dibawa ke Masjid Gedhe Kauman. Total dua Peksi Burak yang dibawa belasan abdi dalem dengan cara dipikul.

Bentuk Peksi Burak menyerupai badan, leher, kepala dan sayap. Masing-masing diletakkan di daun kemuning yang dibuat seperti sebuah sarang. Peksi Burak dan susuh ini diletakkan di bagian paling atas dari pohon buah, dengan disangga oleh ruas-ruas bambu. "Dalam Peksi Burak juga ada uba rampe seperti pisang, jeruk, manggis dan tebu," tuturnya.

Menurutnya, uba rampe itu ada maknanya.  Seperti tebu yang memiliki arti mantep ing kalbu (hati yang mantap) saat Nabi Muhammad melakukan perjalanan ke langit tujuh. Lalu ada manggis yang diartikan sebagai mantep ing is. Is itu artinya suci. Dimaknai sebagai pakaian bersih dan suci saat Nabi Muhammad ke langit tujuh. "Ada rambutan, saat itu Nabi Muhammad ke langit ke tujuh bulannya cerah sekali," katanya.

Tradisi Peksi Burak, menurutnya, telah ada sejak zaman Sultan Hamengku Buwono I. Prosesinya pun sama, setelah sampai di Masjid Gedhe Kauman ada serah terima dari suronoto (abdi dalem) ke Pengulon. "Malam dilanjutkan prosesi pembacaan Isra Mikraj dari pukul 20.00-21.00," jelasnya.

Setelah pembacaan risalah Isra Mikraj itu, nantinya umba rampe Peksi Burak dibagikan khusus untuk para abdi dalem. Total ada sekitar 400 abdi dalem. (oso/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat #nabi muhammad saw #Isra Mikraj #yasa peksi burak #diarak #Masjid Gedhe Kauman #kulit jeruk bali #Hajad Dalem #memperingati #buah #keraton jogja #makhluk #burung #Uba Rampe #Peristiwa #buraq