JOGJA - Kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menerima banyak masukan masyarakat sejak informasi Plengkung Gading bakal ditutup. Masukan itu, antara lain, disampaikan melalui pesan WhatsApp (WA). Itu kejadian yang selama beberapa hari terakhir dialami GBPH Prabukusumo.
“Saya dapat WA banyak sekali. Komentar saya: Aja Dumeh,” ungkap Gusti Prabu, sapaan akrabnya saat dihubungi Radar Jogja Kamis (23/1/2025).
Dia sengaja mengingatkan pesan aja dumeh atau jangan mentang-mentang itu karena selama ini menangkap kesan setiap muncul persoalan terkait keraton selalu menjawab seolah-olah keraton itu milikku. “Duwekku yo sak karepku (milikku ya sekehendakku, Red),” katanya.
Padahal, lanjut dia, Keraton Ngayogyakarta itu milik Sultan Hamengku Buwono (HB) I sampai dengan HB IX. Semua trah mempunyai keturunan. Kembali soal Plengkung Gading, Gusti Prabu yang tinggal di ndalem di kawasan Alun-Alun Selatan mempertanyakan hubungan penutupan dengan sumbu filosofi Jogja.
Sepengatahuan Gusti Prabu, Plengkung Gading atau Kori Nirbaya berhubungan dengan sultan yang tidak boleh lewat di situ. “Bukan ditutup. Sultan baru lewat Plengkung Gading bila wafat dilewatkan Plengkung Nirbaya,” jelasnya.
Pangeran yang lahir dengan nama Bendara Raden Mas (BRM) Harumanto ini mempersilakan hal itu ditanyakan ke para sesepuh di Jogja. Selain itu, bisa dicek ke Keraton Surakarta yang mempunyai adat istiadat mirip dengan Keraton Ngayogyakarta. Sebab, kedua keraton itu merupakan penerus Dinasti Mataram Islam.
Salah satu warga yang tinggal Njeron Beteng Heru Wahyu Kismoyo mengatakan, Kori Nirbaya menjadi jalan terakhir bagi seorang sultan yang sudah paripurna dalam kehidupannya menuju pusara gunung berkabut “himo-giri”. Tempat peristirahatan terakhir sambil menunggu sang sangkakala ditiupkan malaikat sebagai berakhirnya seluruh denyut nadi kehidupan dunia.
Pria yang tinggal di Kampun Namburan Lor, Kraton, ini menambahkan, dalam adat tradisi kematian bagi kawula alit atau rakyat tidak berani jenazahnya lewat Plengkung Gading . “Rakyat tahu adab atau tatakrama. Jalan kematian itu hanya untuk raja,” terang Heru yang selama 20 tahun mengajar Filsafat Budaya Mataram di Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) ini.
Di sisi lain, Pemprov DIY menunjukkan keseriusan mendukung rencana keraton menutup Plengkung Gading. Itu tercermin dari keterangan yang disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY Anna Rina Herbranti.
Anna membeberkan alasan rencana uji coba penutupan Plengkung Gading. Rencana itu masuk ke dalam tiga segmen penataan kawasan sumbu filosofi Jogja dan mengantisipasi kerusakan Plengkung Gading yang telah berusia ratusan tahun.
"Arus lalu lintasnya cukup padat dan Plengkung Gading beberapa ada yang retak karena usianya sudah lama sekali," ujarnya di kompleks Kepatihan, kemarin. Dikatakan, uji coba penutupan perlu dilakukan. Masyarakat yang sering keluar masuk dapat menggunakan jalur alternatif lain.
Infrastruktur kawasan sumbu filosofi Jogja mulai dari Alun-Alun Selatan hingga Panggung Krapayak harus ada penataan. Terkait bangunan Plengkung Gading yang retak-retak perlu diadakan perbaikan sebagaimana di bagian dalam Benteng Baluwarti.
Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan DIY Rizki Budi Utomo menambahkan, proses penataan kawasan sumbu filosofi Jogja terbagi dalam tiga segmen. Segmen satu penataan meliputi kawasan Tugu Golong-Gilig hingga Nol Kilometer. Itu telah dilakukan sejak 2015 hingga saat ini. Selanjutnya, penataan segmen 3, kawasan Njeron Beteng hingga Plengkung Gading. Terakhir, segmen 3, kawasan Plengkung Gading hingga Krapyak.
"Pengelolaan kawasan dalam rangka mengurangi tekanan lingkungan dengan pengelolaan sistem transportasi dan pola ruang (infrastruktur)," ujarnya. Kawasan sumbu filosofi Jogja dihadapkan pada permasalahan kemacetan akibat pertumbuhan kendaraan pribadi yang tinggi serta kurang terkendalinya pertumbuhan infrastruktur. Karena itu, diperlukan manajemen transportasi lalu lintas dan angkutan jalan yang berkelanjutan.
Menurut Rizki, tekanan pada Plengkung Gading berupa potensi kerusakan pada fisik konstruksi plengkung. Dari temuan Dinas Kebudayaan DIY pada 2018 saat rehabilitasi fisik plengkung ditemukan deformasi berupa retakan. Penyebabnya, di antaranya, karena tekanan aktivitas masyarakat dan lalu lintas.
Tekanan aktivitas masyarakat, antara lain, insiden pengunjung yang memanjat hingga puncak plengkung dan aktivitas pelanggaran norma etika adat di malam hari beberapa tahun lalu. Selanjutnya tingginya tekanan lalu lintas dengan bertemunya kendaraan di simpang empat Gading berpotensi menggesek struktur fisik bangunan plengkung. Perilaku pengendara yang menghentikan kendaraan bermotornya di dalam plengkung saat lampu merah juga berpotensi mengakibatkan gesekan lalu lintas. “Baik secara arus maupun secara fisik kendaraan," jelasnya.
Instansinya merencanakan tindak lanjut pengaturan dan rekayasa lalu lintas untuk mengurangi kepadatan lalu lintas dengan dua rencana uji coba. Pertama, melalui sistem satu arah (SSA) dan kedua, penutupan Plengkung Gading. Uji coba SSA dengan mengatur arus lalu lintas menjadi sistem satu arah dari utara ke selatan.
Atau menutup akses Plengkung Gading secara total. Tahapan yang sudah dilakukan dengan survei dan analisis lalu lintas kondisi eksisting di kawasan Njeron Beteng. Selanjutnya, diadakan rapat koordinasi dengan pemangku kebijakan, sosialisasi, uji coba dan evaluasi. (oso/kus/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita