JOGJA - Kasus kekerasan terhadap anak di Kota Jogja mengalami peningkatan cukup signifikan selama tahun 2024.
Upaya pencegahan pun dilakukan pemerintah kota (pemkot) melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Jogja.
Pengelola Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3AP2KB Kota Jogja Era Ambarningsih mengatakan, selama dua tahun terakhir kasus kekerasan terhadap anak memang mengalami peningkatan.
Pada 2023 tercatat ada 61 kasus, namun di tahun 2024 naik 40 kasus atau menjadi 101 kasus.
Era menyebut, terungkapnya kasus kekerasan anak ini tak terlepas karena kesadaran masyarakat yang semakin lebih peduli atau mulai berani melapor.
Misal, karena telah paham dengan sistem pelaporan ketika mendapati kasus kekerasan anak di wilayahnya.
“Apalagi di wilayah kami memiliki Satgas Sigrak, mitra keluarga yang bisa membantu masyarakat untuk melaporkan kekerasan pada anak di wilayah,” ujar Era, Kamis (23/1/2025).
Selain melalui upaya tersebut, DP3AP2KB Kota Jogja juga memiliki program edukasi, pendampingan dan sosialisasi ke sekolah melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga).
Melalui program tersebut diharapkan dapat menekan kasus kekerasan pada anak seperti bullying, kekerasan verbal dan nonverbal. Serta mencegah kasus kekerasan seksual.
Era menerangkan, dalam Puspaga juga memiliki layanan konseling dan konsultasi secara online serta offline.
Adapun tahun ini, juga akan didampingi 21 calon pengantin (catin) mengenai materi parenting atau pola asuh orang tua.
Baca Juga: Bersama POLRI, Kementan Tanam Jagung Serentak di Jawa Tengah
Menurutnya, pendampingan terhadap catin sangat penting untuk mencegah kasus kekerasan terhadap anak.
Sebab para calon orang tua akan memiliki pemahaman tentang pola asuh yang baik.
Sehingga akan berdampak pula terhadap model pengasuhan ketika memiliki anak nantinya.
Era menambahkan, pendampingan tersebut juga akan dilakukan secara bertahap kepada catin.
Misalnya pada satu bulan akan dilakukan monev dan pendampingan pada satu hingga dua pasangan.
Sasaran pendampingan pun akan diprioritaskan terhadap pasangan yang hamil di luar nikah.
“Harapan kami, dengan upaya tersebut kasus kekerasan terhadap anak dapat menurun di tahun 2025,” imbuh Era.
Sementara itu, Admin Puspaga Kenari Raditya Kurniawan membeberkan, untuk tahun ini Puspaga akan menyasar dua sekolah untuk dilakukan sosialisai. Meliputi SD dan SMP di wilayah Rejowinangun serta Prenggan.
Materi yang diberikan tentang pendampingan yang berkaitan dengan bullying dan parenting.
Melalui upaya itu, Raditya berharap, sekolah nantinya akan mengimplementasikan perlindungan anak di sekolah. Sehingga tidak akan ada lagi kekerasan terhadap anak.
“Kami akan lakukan kembali sosialisasi dan edukasi di dua sekolah tentang bullying, parenting serta pola asuh terhadap anak sebagai penguatan sekolah ramah anak,” terangnya.
Sebagai informasi, Puspaga membuka layanan gratis melalui aplikasi Sistem Layanan Konseling (Sila Eling) yang terintegrasi dengan Jogja Smart Service (JSS).
Kemudian juga bimbingan konseling gratis melalui Telepon Sahabat Anak (TeSA) di 08112848404. (inu)
Editor : Winda Atika Ira Puspita