JOGJA - Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 membenarkan tentang rencana ujicoba penutupan Plengkung Gading atau Plengkung Nirbaya. Pedagang di dalam benteng keraton juga rencananya akan dilakukan penataan.
"Pengertian ditata kan bukan digusur, kurang tahu (teknisnya) nanti," ujar Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 saat ditemui di Kompleks Kepatihan Jogja, Rabu (22/1).
Ia kembali menegaskan, rencana penutupan tersebut merupakan tahap percobaan untuk mengetahui kondisi memungkinkan atau tidak. Penutupan gerbang masuk-keluar keraton di sebelah selatan tersebut merupakan bagian dari penataan sumbu filosofi Jogja, khususnya yang berada di kawasan Kompleks Keraton Jogja. "Ya semua penataan, kan ada rekomendasi-rekomendasi dari UNESCO yang harus dipenuhi," tuturnya.
Para pedagang hanya tahu sebatas adanya rencana penataan. Namun untuk detail teknis hingga master plan belum diterima informasinya. Bahkan ia juga menanyakan kepada mantra pamong praja sekitar, namun yang bersangkutan juga belum mendapatkan informasi. "Pada dasarnya sendika dawuh. Tapi yang jelas, saya mewakili paguyuban berharap sangat berharap walaupun ditata tapi yang penting bisa mencari rezeki," jelasnya.
Paparasi merupakan paguyuban yang menaungi para pedagang di Alun-Alun Kidul. Namun di bawah paguyuban Paparasi masih ada kelompok lagi yakni ketua musisi, odong-odong, kuliner dan delapan kelompok lainnya. "Secara Kartu Tanda Anggota (KTA) saat ini ada sekitar 250 pedagang anggota Paparasi," bebernya.
Masalah rencana penutupan plengkung, pihaknya juga sudah mendengar kabar. Penutupan tersebut bertujuan untuk penataan warisan budaya yang akan dikembalikan seperti dulu. "Saya sebagai rakyat yang penting ketika ditata warga sini bisa diayomi, tidak ada masalah," jelasnya. (oso/pra)
Editor : Heru Pratomo