Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wamendagri Bima Arya Kunjungi Teras Malioboro, Pemprov DIY Sampaikan Program dan Inovasi untuk Pedagang

Agung Dwi Prakoso • Senin, 20 Januari 2025 | 03:57 WIB

 

APRESIASI: Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya  melakukan kunjungan ke Teras Malioboro, Minggu (19/1).
APRESIASI: Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya  melakukan kunjungan ke Teras Malioboro, Minggu (19/1).

 

JOGJA - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya  melakukan kunjungan ke Teras Malioboro, Minggu (18/1). Dalam kunjungan tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY mengenalkan lokasi Teras Malioboro yang termasuk dalam program penataan Kawasan Sumbu Filosofi Jogja beserta beberapa inovasi yang dilakukan.

Penataan Malioboro sebagai kawasan Sumbu Filosofi mengacu pada Undang-Undang Nomor 13/ 2012 Tentang Keistimewaan DIY dan Peraturan Daerah DIY Nomor 5/ 2019 tentang Rencana tata Ruang Wilayah DIY 2019-2039 serta Surat Edaran Gubernur DIY Nomor 3/SE/I/2022 Tanggal 24 Januari 2022 Tentang Penataan Kawasan Khusus Pedestrian di Jalan Malioboro dan  Margo Mulyo. Salah satu bagian dari penataan tersebut adalah merelokasi para pedagang kaki lima yang berada di daerah Jalan Malioboro ke Teras Malioboro yakni di Ketandan dan Beskalan.

Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan DIY Aris Eko Nugroho mengatakan tahapan relokasi terbagi menjadi dua tahap yakni Bulan Februari 2022. Total sebanyak 888 audah menempati bekas Gedung Bioskop Indra. "Tahap kedua dilakukan pada bulan Januari 2025 ini untuk memindahkan 1034 pedagang yang terbagi  dua yakni Beskalan dan Ketandan," ujarnya.

Di lokasi Ketandan dengan konsep bagunan pecinan siisi oleh 602 pedagang. Sedangkan di Beskalan ditempati sebanyak 432 pedagang yang konsep bangunannya bertema indische. Relokasi ini bertujuan untuk menaik kelaskan para pedagang kaki lima serta memberikan kepastian tempat berusaha," tuturnya.

Tahapan relokasi dibiayai melalui Dana Keisitmewaan (Danais). Kini tidak ada lagi istilah Teras Maliboro 1 dan dua, melainkan melebur menjadi Teras Malioboto yang pengembangannya langsung di bawah Dinas Koperasi dan UKM DIJ. Terdapat enam aspek yang menjadi fokus pengembangan oleh DinkopUKM DIJ. Pertama peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui peningkatan kapasitas tenant sebanyak 744 tenant terdiri dari tenant fashion, craft dan kuliner. Kedua, para pedagang difasikitasi untuk mengurus sertifikat Halal untuk 105 tenan dan Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) sebanyak 60 tenan. "Kami telah memfasilitasi pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk 827 tenan," bebernya.

 Baca Juga: Beda Kondisi Kota dengan Kabupaten, DPRD Ingatkan Kompleksitas Masalah di Kota Jogja kepada Wali Kota Terpilih

Sebagai tata kelola keungan, dalam dua tahun terakhir Pemprov DIY juga memberikan pelatihan literasi keuangan kepada para pedagang. Strategi pemasaran juga akan terus dilakukan, pedagang diarahkan melakukan pemasaran produknya melalui aplikasi Sibakul, Teras Malioboro Mobile dan Media Sosial. "Kami bekerjasama dengan perbankan terutama Bank BPD DIY untuk mengembangkan pembayaran digital melalui QRIS di Teras Malioboro," jelasnya.

Inovasi yang telah dilaksanakan diantaranya Pesona Teras Malioboro atau Pemilahan Sampah Organik – Non Organik Teras Malioboro. Teras Malioboro sejak bulan Juni 2022 sudah secara mandiri melaksanakan pemilahan sampah dan tidak dibuang ke TPA Piyungan."Ada juga Koperasi Temadji, Sinau Bakulan, Rembag Temadji, UKK Teras Maliobor, Jumangkah, Aplikasi Taras Malioboro Mobile, Teras Muda dan Mas Temo yang semuanya diperuntukan bagi kemajuan pedagang," terangnya.

Bima Arya mengapresiasi langkah Pemprov DIY dalam melakukan tata kelola kawasan sumbu filosofi. Dua lokasi  Teras Maliobro tersebut masih terletak di kawasan Malioboro. Otomatis segala macam aktivitas perdagangan akan mendukung nilai-nilai dari sumbu filosofi itu sendiri.

Terdapat tiga level yang disampaikan Bima Arya terkait apa yang harus dilakukan Pemprov DIY kedepannya. Ia menyampaikan secara berurutan yakni relokasi, aktivasi dan diversifikasi. Ia juga membandingkan tata kelola Teras Malioboro dengan Victoria Market di Melbourne, Australia.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM (DinkopUKM) DIY Srie Nurkyatsiwi menambahkan, kunjungan  Wamendagri di Teras Malioboro sekaligus mengapresiasi program dari Pemprov DIJ terakit penataan kawasan sumbu filosofi. Program tersebut diharapkan bisa menjadi contoh di daerah lain untuk optimalisasi pengelolaan sektor perdagangan. "Pendampingan pedagang telah kami lakukan, terbukti selama 2 tahun di TM 1 itu ekosistem perdagangan tumbuh," ujarnya.

Para pedagang yang menghuni lokasi baru juga akan didampingi terkait pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB). Tujuannya agar para pedagang secara resmi telah terdaftar dan bukan pedagang ilegal."Cara display produk pun juga kami arahkan, terutama pedagang harus melek digitial dengan promosi melalui market online Si Bakul," jelasnya.

Selain fokus pad- pedagang, pihaknya juga aktif menghidupkan Teras Malioboro agar kenarik wisatawan. Melalui even dan berbagai macam hiburan akan dilakhkan agar pengunjung tertarik dan nyaman saat datang ke Teras Malioboro. " Suasana dan pendukung tempat juga akan dihidupkan. Pengunjung bisa nongkrong ataupun nyore," bebernya.

Pemprov DIY dalam hal ini menunjukkan keberhasilannya dalam mengelola pedagang di Jalan Malioboro. Dinamika di lapangan ia nilai sebagai sesuatu yang umum terjadi. Namun, ia menekankan bagaimana mengolah hal itu agar bisa aktivitas berjualan menghidupi semua pedagang. (oso/din)

 

 

Editor : Din Miftahudin
#teras malioboro #Wamendagri Bima Arya #Sumbu Filosofi Yogyakarta #bima arya