Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Orang Tua Perokok Jadi Penyebab Terbesar Tingginya Kasus Stunting di Jogja, Berikut Penjelasannya

Iwan Nurwanto • Minggu, 19 Januari 2025 | 23:33 WIB
Ilustrasi anak stunting.
Ilustrasi anak stunting.

JOGJA - Pola asuh orang tua yang salah menjadi salah satu pemicu masih banyaknya kasus stunting. 

Bahkan, kebiasaan merokok yang dilakukan oleh orang tua menjadi salah satu faktor penyebab paling besar kasus stunting di Kota Jogja.

Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Jogja Herristanti mengatakan, pihaknya telah melakukan survei ketahanan keluarga. 

Survei tersebut bertujuan untuk mencari formula yang paling tepat untuk penanggulangan stunting di Kota Jogja.

Dalam survei tersebut, ditemukan hasil bahwa tingginya angka perokok di keluarga menjadi salah satu penyebab terbesar stunting. 

Dengan persentase 50 persen. 

Kemudian ada faktor lain seperti kondisi rumah yang tidak layak huni. 

Serta kurangnya perhatian orang tua terhadap pola asuh anak dalam 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).

“Kami menggunakan survei ini sebagai acuan untuk kampanye informasi, edukasi, dan komunikasi (KIE) yang lebih tepat sasaran,” ujar Herristanti, Minggu (19/1/2025).

Prevalensi stunting di Kota Jogja masih cukup tinggi. 

Pada tahun 2024 angkanya berada pada kisaran 11,27 persen. 

Jika dibandingkan tahun sebelumnya hanya turun 0,49 persen, karena pada 2023 tercatat prevalensi stunting 11,76 persen. 

Baca Juga: Bus Listrik Jogja Mulai Beroperasi Senin 20 Januari 2025, Gratis Selama Setahun, Berikut Trayeknya

Herristanti menyampaikan, upaya untuk menekan angka stunting di Kota Jogja pada tahun ini telah diupayakan dengan kolaborasi lintas sektor dan pelaksanaan program strategis. 

Terbaru, program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) yang dirancang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Dijelaskannya, program Genting menjadi wadah bagi perusahaan untuk mendukung upaya pencegahan stunting melalui Corporate social responsibility (CSR). 

Sehingga diharapkan dapat membantu penurunan angka stunting secara signifikan.

Selain itu, program pencegahan stunting juga diarahkan untuk mengatasi berbagai kesehatan lain. 

Seperti penyakit tuberkulosis, preeklampsia, kelahiran tidak diinginkan, sanitasi, ekonomi, dan ketidakpatuhan administrasi kependudukan bagi pendatang.

Dalam program Genting itu, Pemkot Jogja juga berencana menggandeng Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) untuk melakukan asesmen sampel di kelurahan tahun ini. 

Serta bekerja sama dengan LPPM (Lembaga Pengabdian Masyarakat) untuk melibatkan mahasiswa dalam KKN tematik.

“Sehingga dapat mendukung edukasi masyarakat secara langsung yang fokus pada stunting,” ungkap Herristanti.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Jogja Iswari Paramita menyampaikan, penurunan angka stunting merupakan dampak kemajuan dari program-program pencegahan stunting. 

Sekaligus bukti bahwa pendekatan yang dilakukan pemkot sudah berada di jalur yang tepat.

Menurutnya, Dinkes Kota Jogja tidak hanya fokus pada program pencegahan stunting dengan menyasar balita. 

Namun juga remaja putri sebagai langkah pencegahan dini. 

Serta ibu hamil melalui pemantauan pertumbuhan anak sejak masa kehamilan.

“Langkah ini dipadukan dengan edukasi tentang ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan (PMT), dan sinergi lintas sektor,” ungkap Paramita. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#perokok #orang tua #Kota Jogja #Angka stunting #tinggi #pencegahan stunting