Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Harga Cabai Rawit di DIY Melambung, Penjual Makanan Limbung; Intensitas Hujan Tinggi Salah Satu Penyebab Kenaikan Harga

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 12 Januari 2025 | 21:23 WIB
Pedagang keluhkan harga cabai rawit merah melonjak, di Pasar Argosari, Wonosari, Gunungkidul, Rabu (8/1).
Pedagang keluhkan harga cabai rawit merah melonjak, di Pasar Argosari, Wonosari, Gunungkidul, Rabu (8/1).

JOGJA - Beberapa hari belakangan ini harga komoditas cabai rawit merah di DIY mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi. 

Kenaikan harga cabai tersebut cukup mempengaruhi minat beli hingga pengusaha makanan. 

"Harga naik bikin pusing, otomatis mengurangi untung jualan," ujar Penjual Mie dan Nasi Goreng di Jalan Prambanan-Piyungan, Gunarsa saat dikonfirmasi, Minggu (12/1/2025). 

Di tempatnya, satu porsi mie ataupun nasi goreng seharga Rp 14.000-Rp 15.000. 

Dengan harga segitu, laba yang ia peroleh relatif mepet, mengingat banyak bahan baku yang mengalami kenaikan harga. 

Menurutnya cabai termasuk komoditas pokok yang ia butuhkan setiap hari. 

Maka dari itu, kenaikan harga cabai cukup terasa, terlebih peminat makanannya mayoritas senang dengan masakan pedas. 

"Terakhir itu harganya sampai Rp 100 ribu per kilogram di Pasar Prambanan," tuturnya. 

Untuk mengantisipasi itu, Gunarsa mengakalinya dengan membeli cabai sedikit demi sedikit sesuai dengan kebutuhan setiap harinya. 

Harapannya, hari berikutnya harga cabai bisa mengalami penurunan. 

Setiap hari ia hanya belanja cabai sekitar 1-2 ons di Pasar Prambanan. 

"Setiap hari harganya naik turun, hari ini turun di angka Rp 90 ribu per kilogram," jelasnya. 

Hal senada juga disampaikan salah satu pedagang sayur di Pasar Prambanan, Herjunaidi. 

Ia mengatakan harga komoditas cabai rawit merah setiap hari terjadi perubahan. 

Menurutnya, harga cabai seperti harga emas yang setiap hari naik-turun. 

"Hari ini harganya Rp 85-90 ribu kalau di Pasar Prambanan," ujarnya. 

Menurutnya kenaikan harga cabai terjadi ketika cuaca hujan dengan intensitas tinggi. 

Selain mahal, menurutnya stok cabai di petani juga mengalami penurunan, sehingga memang sulit mencarinya. 

Namun, karena cabai seperti bahan pokok, ia tidak menemukan adanya penurunan minat beli di pasar. 

"Sama aja, karena banyak yang butuh cabai," tegasnya. 

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yuna Pancawati mengatakan harga cabai rawit merah mulai berangsur turun mulai minggu kedua Januari 2025. 

Berdasarkan data di dua pasar pantauan yakni di Pasar Beringharjo dan Pasar Prawirotaman, harga cabai rawit merah masih mencapai Rp 101.167 per kilogram (kg) pada Senin (6/1/2025).

"Itu terus mengalami penurunan selama sepekan hingga menjadi Rp90.500 pada Jumat (10/1/2025)," ujarnya. 

Menurutnya, kenaikan komoditas cabai dipengaruhi oleh permintaan tinggi saat momen libur Nataru. 

Selain itu, terbatasnya pasokan akibat banyak petani gagal panen karena intensitas hujan tinggi dan hama juga menjadi salah satu faktornya. 

Pemerintah melakukan upaya pengendalian salah satunya dengan cara melakukan operasi pasar (OP) intuk menstabilkan harga. 

Namun terdapat kendala yang dirasakan yakni distribusi cabai ke lokasi OP memerlukan logistik yang efisien karena cabai merupakan komoditas yang mudah rusak atau busuk.

"Jika tidak tersedia fasilitas transportasi atau penyimpanan yang memadai, operasi pasar dapat terhambat," tuturnya. (oso) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#meroket #operasi pasar #cabai rawit #harga cabai