JOGJA – Persoalan sampah yang menumpuk di depo sampah di Kota Jogja terus dicarikan solusinya. Di antaranya dengan mengaktifkan kembali penggerobak. Untuk mengambil sampah door to door dari rumah. Tak ada lagi pembuangan sampah mandiri di depo.
Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Ahmad Haryoko mengatakan, skema penanganan sampah dengan mengangkut langsung sampah dari rumah-rumah warga ke depo bukan hal baru. Sebelumnya sudah dilakukan oleh para penggerobak. “Penggerobak nantinya bertugas untuk mengangkut sampah dari rumah-rumah warga untuk dibawa ke depo,” katanya, Rabu (8/1).
DLH Kota Jogja kini tengah melakukan pendataan terhadap penggerobak atau transporter. Haryoko menjelaskan, pada Januari ini pihaknya menarget dapat mendata penggerobak di dua kemantren. Kemudian pada Februari harapannya dapat mendata lima kemantren, lalu Maret sebanyak tujuh kemantren. “Sehingga pada April skema pengangkutan sampah dari rumah tangga itu bisa berjalan,” ungkapnya.
Menurut dia, jumlah penggerobak sampah di Kota Jogja mencapai 550 hingga 600 orang. Namun, jumlah itu merupakan petugas yang rutin mengangkut sampah sebelum adanya pembatasan pembuangan karena situasi darurat sampah. “Sehingga saat ini kami tengah mengupayakan agar seluruh transporter dapat kembali aktif,” ujar Haryoko.
Dijelaskannya, penggerobak yang bertugas mengangkut sampah dari rumah warga nantinya juga akan menjadi mitra DLH Kota Jogja. “Selain bertugas mengangkut sampah para penggerobak juga akan menjadi petugas pemungut retribusi,” ungkapnya.
Guna memastikan legalitas para penggerobak, Haryoko menyebut, para penggerobak nantinya juga akan dibekali kartu identitas. Sehingga nantinya masyarakat bisa ikut memastikan, petugas pengangkut sampah yang datang telah resmi bermitra dengan DLH Kota Jogja.
Sementara terkait dengan proses pengolahan sampah, Haryoko menerangkan, di tahun ini pihaknya sudah mengoperasionalkan empat unit mesin insinerator. Letaknya di Sitimulyo, Piyungan, Bantul dan Giwangan dengan jumlah per titiknya dua mesin.
Kehadiran empat mesin insinerator itu nantinya dapat mengolah 30 ton sampah per hari. Kemudian juga didukung TPS3R Nitikan dengan kapasitas 55 ton, TPS3R Kranon 25 ton per hari, dan TPS3R Karangmiri 15 ton per hari. Serta kerjasama pengelolaan sampah dengan pihak swasta sebanyak 45 ton per hari. Dengan begitu masih ada sekitar 20 ton dari total produksi sampah 250 ton per hari. “Sisanya menumpuk di depo dan tinggal menunggu pengelolaan,” terang Haryoko.
Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Kota Jogja Bambang Seno Baskoro memastikan, pihaknya akan terus mengawasi kinerja pemkot dalam hal penanganan sampah. Sebab persoalan sampah menjadi salah satu masalah yang paling dikeluhkan masyarakat.
Seno pun mengusulkan agar dibentuk kelompok kerja (pokja) yang beranggotakan legislatif-eksekutif. Sehingga dapat menjadi wadah komunikasi bersama untuk mencari solusi penanganan sampah dengan segera. “Pokja juga menjadi wadah bagi lembaga legislatif dalam mengawasi kinerja eksekutif sesuai dengan skema yang sudah dicanangkan,” tegas Seno. (inu/pra)
Editor : Heru Pratomo