. Sebagai satu-satunya bandara internasional yang melayani Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah (Jateng), YIA dianggap terlalu besar untuk sekadar mengakomodasi kebutuhan mobilitas DIY. Oleh karena itu, YIA didorong untuk melayani wilayah yang lebih luas, termasuk Jateng bagian selatan dan Jawa Timur bagian barat.
Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat pada 2024, YIA tidak termasuk dalam lima besar bandara dengan kedatangan tertinggi di Indonesia. Bandara Soekarno-Hatta berada di posisi pertama dengan 406.731 kedatangan, diikuti Kualanamu (62.112), Juanda (55.895), Ngurah Rai (24.065), dan Sultan Syarif Kasim II (15.688). Sementara YIA berada di posisi kesembilan dengan hanya mencatatkan 4.324 kedatangan.
Menanggapi hal tersebut, Asisten Sekprov Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setprov DIY Tri Saktiyana menyatakan, situasi penerbangan global sedang mengalami penurunan yang berdampak pada YIA. Dia menyebut, kapasitas YIA yang sangat besar harus dimanfaatkan untuk lebih dari sekadar melayani DIY. Melainkan juga daerah sekitar seperti Jateng selatan dan Jatim barat. “Baik untuk penerbangan penumpang maupun ekspor impor barang,” katanya, Senin (6/1/2025).
Baca Juga: Rp 1,5 Miliar untuk Relokasi SDN Kaliandong yang Terdampak Pembangunan Tol Jogja-YIA
Saktiyana mengungkapkan, bandara YIA memiliki kapasitas untuk menerima pesawat terbesar dan terberat di dunia. Bahkan, bandara yang memiliki luas 600 hektare ini pernah didarati pesawat Antonov dengan berat lebih dari 200 ton sebanyak tiga kali. Pesawat itu mendarat di YIA karena tidak bisa mendarat di Surabaya.“Bayangkan 200 ton bisa terbang dan mendarat di YIA. Dulu mengangkut kabel untuk Jatim, bukan untuk DIY. Nah, hal seperti itu harus kita dorong," ujarnya.
Baca Juga: Tiga Pelajar Di Kulon Progo Nekat Gasak Kabel Lampu Penerangan Jalan untuk Beli Rokok
Namun, dia juga mengakui bahwa penerbangan internasional reguler, baik untuk penumpang maupun kargo, belum ada di YIA. “Namanya perusahaan menghitung untung dan rugi. Kalau pesawat besar jumlahnya sampai 350 penumpang yang naik cuma sedikit ya pakai pesawat kecil," tambahnya.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY meminta pemerintah menambah rute penerbangan internasional di YIA guna mendongkrak sektor pariwisata di provinsi itu. Aksesibilitas penerbangan internasional dinilai menjadi kunci utama menarik lebih banyak wisatawan mancanegara, terutama dari negara-negara Asia ke DIY. "Akses penerbangan ke luar negeri, juga dari luar negeri ke Indonesia, terutama di DIY harus didorong betul," kata Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono.
Menurutnya, saat ini YIA baru melayani penerbangan langsung dari Singapura dan Malaysia. Sehingga perlu ada rute baru untuk meningkatkan daya saing pariwisata DIY di kancah internasional. Setidaknya ada tambahan satu rute penerbangan dari Thailand ke Yogyakarta. “Dengan menambah akses dari Thailand, dampaknya akan sangat besar," sebutnya.
Deddy optimistis peningkatan aksesibilitas udara di YIA bakal efektif mendukung target pemerintah dalam meningkatkan devisa negara dari sektor pariwisata.
Sementara itu, PT Angkasa Pura I mencatat jumlah penerbangan di YIA memang menurun pada 2024. Total penerbangan tercatat 4,2 juta, sedikit lebih rendah dari 4,3 juta penerbangan pada 2023. Di antara penerbangan tersebut, sekitar 203.075 merupakan penerbangan internasional dengan rute menuju Singapura dan Kuala Lumpur.
“Sektor kargo di YIA mengalami peningkatan, dengan jumlah kargo yang diproses pada 2024 meningkat 34 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai sekitar 15.671.477 kilogram,” jelas Stakeholder Relation Manager PT Angkasa Pura I Ike Yutiane Purwanita. (tyo)
Editor : Din Miftahudin