JOGJA - Pelantikan kepala daerah yang terpilih melalui Pilkada 2024 diprediksi bakal mundur.
Hal itu pun ditanggapi oleh Hasto Wardoyo selaku wali kota Jogja terpilih.
Hasto mengatakan, baginya tidak masalah jika pelantikan kepala daerah akan mundur dari jadwal sebelumnya.
Dia memastikan, bakal mengikuti regulasi yang ada.
Termasuk jika jadwal pelantikan dilakukan bulan Maret 2025.
Justru dengan mundurnya waktu pelantikan, Hasto mengaku, dapat memiliki waktu lebih untuk mencari informasi soal permasalahan yang ada di Kota Jogja.
Sehingga ketika sudah resmi dilantik nantinya, dia bisa langsung tancap gas menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada.
Menurut Hasto, untuk saat ini dirinya cukup fokus belajar dan mencari informasi terkait penanganan sampah.
Termasuk, menjalin komunikasi dengan berbagai pihak guna mengetahui kondisi sebenarnya perihal masalah di Kota Jogja.
“Strategi dan kebijakan saya susun mulai sekarang, harapan saya setelah pelantikan langsung jalan, tidak mulai dari nol,” ujar Hasto saat dikonfirmasi, Minggu (5/1/2025).
Hasto Wardoyo dan Wawan Harmawan merupakan kepala daerah terpilih di Kota Jogja.
Keduanya berhasil unggul dari dua pasangan calon (paslon) lain dalam pemungutan suara pilkada 27 November 2024.
Adapun untuk perolehan suaranya, paslon Hasto-Wawan unggul dengan perolehan 87. 485 suara.
Kemudian paslon Muhammad Afnan Hadikusumo dan Singgih Raharjo memperoleh 63.876 suara.
Sementara Heroe Poerwadi dan Sri Widya Supena meraih 45.518 suara.
Dikonfirmasi terpisah, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Jogja Noor Harsya Aryo Samudro menyampaikan, belum bisa memastikan perihal mundurnya pelantikan calon kepala daerah terpilih.
Sebab pihaknya juga belum menerima pemberitahuan resmi dari KPU RI.
Harsya menyatakan, dalam menentukan jadwal pelantikan kepala daerah terpilih KPU juga harus berdasar pada keputusan Mahkamah Konstitusi (MK).
Hal tersebut telah diatur dalam Surat Keputusan (SK) MK Nomor. 4 tahun 2024.
“SK MK Nomor. 4 tahun 2024 menjadi dasar KPU RI memerintahkan kepada kami,” terangnya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin