Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kasus DBD di Kota Jogja Tahun Ini Mencapai 283 Orang, Naik Hampir Empat Kali Lipat Dibanding 2023

Adib Lazwar Irkhami • Senin, 30 Desember 2024 | 04:29 WIB



 

ilustrasi DBD
ilustrasi DBD

 

 

JOGJA - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Jogja mengalami peningkatan signifikan dalam kurun waktu setahun terakhir. Bahkan kenaikan kasusnya mencapai hampir empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan tahun 2023 lalu.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan, hingga akhir bulan di 2024 penyakit DBD sudah menimpa 283 orang. Jumlah itu naik signifikan, karena tahun lalu hanya 86 kasus.

Menurut Endang, kondisi musim yang tidak menentu menjadi salah satu faktor meningkatnya penyebaran penyakit DBD. Sehingga kenaikan kasusnya pun hampir merata di seluruh DIJ. Di satu sisi kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) juga masih rendah.

“Cuaca yang tidak menentu dan kurangnya kesadaran masyarakat menjadi faktor pemicu utama (peningkatan DBD di Kota Jogja),” ujar Endang saat dikonfirmasi Minggu  (29/12).

Dengan banyaknya kasus DBD di Kota Jogja, Endang mengimbau masyarakat mulai kembali aktif menjalankan gerakan PSN secara rutin dan mandiri. Serta menerapkan 3M Plus. Yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, mendaur ulang barang bekas.

Di samping itu perlu juga menggunakan obat nyamuk dan memasang kelambu saat tidur untuk mencegah gigitan nyamuk aedes aegypti penyebab DBD. Menurutnya, peran aktif warga juga cukup penting menekan angka penyebaran DBD.

“Salah satunya melalui gerakan satu rumah satu jumantik yang dihidupkan kembali di kampung dan perkantoran,” katanya.

Baca Juga: Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Magelang Terima Laporan Penipuan, soal Program Makan Bergizi Gratis, Mengaku dari Badan Gizi Nasional

Endang juga meminta masyarakat juga lebih waspada terhadap gejala penyakit DBD. Terlebih ketika ada anak atau anggota keluarga mengalami gejala seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, mual, atau muncul bintik-bintik merah pada kulit.

Menurutnya, penanganan dini terhadap penderita bisa menyelamatkan dari kesakitan yang lebih parah atau kompilasi. Oleh karena itu, jika mengalami gejala DBD lebih baik langsung dibawa ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit agar segera mendapatkan perawatan.

“Kami mengimbau kepada orang tua harus lebih waspada di hari ke 4-5 ketika anak atau anggota keluarganya mengalami panas tinggi,” pesan Endang.

Terpisah, Kepala Puskesmas Mantrijeron Eny Purdiyanti mengaku, pihaknya terus menekankan ke masyarakat tentang penerapan PSN. Salah satunya melalui sosialisasi secara mandiri hingga ke lapisan terbawah masyarakat melalui koordinasi dengan pengurus RT dan RW.

Dengan kegiatan sosialisasi itu, dia berharap penanggulangan DBD dapat tercipta melalui kolaborasi bersama antara pemerintah dan masyarakat. Sekaligus mewujudkan Kota Jogja bebas dari ancaman penyakit yang berbahaya.

“Kami juga mendorong kepada masyarakat jika anak atau keluarga memiliki tanda-tanda DBD, segera periksakan di fasilitas kesehatan terdekat,” tegas Eny. (inu/laz)

Editor : Din Miftahudin
#Kota Jogja #dinkes #penyakit #DBD #musim hujan 2024