JOGJA - Tumpukan sampah liar menghiasi sejumlah ruas jalan di Kota Jogja. Kondisi itu tentu cukup mengganggu wisatawan maupun pengguna jalan. Apalagi di tengah masa libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru) seperti sekarang.
Pantauan Radar Jogja pada Jumat (27/12/2024), tumpukan sampah nampak di sisi timur Jalan Magelang, Karangwaru, Tegalrejo. Kemudian juga ada tumpukan di sisi barat Jembatan Juminahan, Danurejan. Selain itu, tumpukan sampah juga cukup banyak ada di sisi timur Jembatan Gembira Loka yang berada di Jalan Kusumanegara, Rejowinangun.
Kondisi itu dikeluhkan oleh salah satu pengguna jalan. Restu Alif, warga Bantul ini mengaku sangat terganggu dengan tumpukan sampah. Tidak lain karena baunya yang menyengat serta hanya diletakan begitu saja di pinggir jalan.
Restu berharap, agar ada tindakan dari pemerintah untuk mengangkut tumpukan sampah tersebut. Apalagi letaknya berada di jalan protokol dan tidak jauh dari destinasi wisata kebun binatang Gembira Loka, yang sering menjadi jujugan wisatawan saat liburan. “Menurut saya, ini harus segera dibersihkan,” ujar Restu.
Dikonfirmasi soal permasalahan tumpukan sampah liar, Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Ahmad Haryoko menyatakan, pihaknya terus berupaya agar sampah liar dapat dievakuasi. Hanya memang tidak serta merta dilakukan secara cepat.
Sebab, kata Haryoko, untuk saat ini Kota Jogja tidak bisa lagi membuang sampah ke TPA Piyungan. Sehingga sampah-sampah yang diangkut DLH Kota Jogja harus ditimbun dulu pada depo-depo sebelum nantinya masuk rotasi pengolahan.
Sebagaimana diketahui, Pemkot Jogja memiliki pengolahan sampah di TPS3R Karangmiri, TPS3R Kranon, dan TPS3R Nitikan. Kemudian di tahun 2025 bakal mengoperasikan dua mesin insinerator di Sitimulyo dan Giwangan.
Di sisi lain, dengan tidak adanya TPA Piyungan juga membuat DLH Kota Jogja tidak bisa menggunakan truk dengan kapasitas besar. Sehingga pengangkutan sampah-sampah liar pun hanya dapat dilakukan angkutan kecil.
“Dulu kami bisa evakuasi langsung menggunakan truk dan dibawa ke TPA Piyungan, kalau sekarang kami pakai armada kecil untuk didistribusikan ke unit pengolahan yang ada,” terang Haryoko. (inu/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita