Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mbah Sihono, 50 Tahun Gantungkan Hidup dari Kerajinan Kalung Rosario, Dulu Dibantu Istri dan Karyawan, Kini Jadi Klangenan di Masa Senja

Elang Kharisma Dewangga • Rabu, 25 Desember 2024 | 13:30 WIB

 

Mbah Sihono saat menunjukkan kerajinan kalung rosario yang dibuatnya.
Mbah Sihono saat menunjukkan kerajinan kalung rosario yang dibuatnya.

JOGJA - Setengah abad Sihono dan keluarganya menggantungkan hidup dari kerajinan kalung rosario. Masa kejayaannya telah surut. Usahanya kini hanya sebagai klangenan di masa senja yang sendirian. 

Deru mesin pemotong kayu menembus tembok rumah sederhana di tengah Kota Jogja Selasa sore (24/12/2024). Dari celah bata merah yang rapuh, seorang pria tua tampak sibuk memotong kayu berbentuk salib dengan mesin jigsaw yang berusia puluhan tahun.

Perlahan sekali, pria itu beranjak dari kursi kayu. Ia pun mempersilakan kami masuk. Oleh tetangga sekitarnya, ia akrab dipanggil Mbah Sihono, seorang perajin kalung rosario berusia 70 tahun. Dia berasal dari Kampung Minggiran, Suryadiningratan, Mantrijeron, Kota Jogja.

"Masuk Mas, ngapunten (maaf) kondisinya berantakan,"  ujar pria yang berulangtahun setiap bulan November ini.

Beberapa mesin pengolah kayu, mulai dari mesin bubut, pemotong hingga penghalus memenuhi ruangan dengan luas tidak lebih dari 2x4 meter itu. Serbuk kayu berserakan di lantai tanah yang belum di semen. Bahkan beberapa menempel di batu bata merah dan jaring laba-laba yang usang.

"Beginilah ruang produksi saya Mas. Walaupun (mesin) tidak semua terpakai, tapi itu usianya puluhan tahun lho," ungkapnya sambil tersenyum.

Asesoris pendukung kerohanian gereja yang baru setengah jadi menumpuk di meja kerjanya. Ada kalung rosario berukuran besar, ada pula yang kecil, lengkap dengan gantungan salibnya. Itulah hasil karya Mbah Sihono sekaligus sumber penghasilan utama dirinya.

"Sudah sekitar 50 tahun saya buat ini. Memulainya dulu saat umur saya masih 20 tahun," tuturnya.

Mbah Sihono saat membuat kerajinan kalung rosario.
Mbah Sihono saat membuat kerajinan kalung rosario.

Kulit tangannya yang keriput terlihat jelas saat lampu gantung kecil penerang meja kerjanya dihidupkan. Seraya gemetar, salib yang belum selesai itu ia lanjutkan. Lekukan demi lekukan kayu sangat jeli ia bentuk. Dibantu kacamatanya, terlihat jelas ia suka dengan hasil karya yang rapi. "Sekarang ya (produksi) semampunya. Dulu ditemani istri dan tenaga, sekarang sendiri," bebernya.

 

Istrinya, Kurul Basdosati yang setiap harinya membantu bekerja telah meninggal duania sekitar dua tahun lalu. Sedangkan para tenaganya, memilih pergi untuk kerja di bidang lain.

"Anak-anak juga memilih kerja keluar dan tidak ada yang meneruskan. Mau bayar tenaga sekarang juga tidak mampu," kata kakek yang sudah memiliki satu buyut ini.

Di masa jayanya, ia mampu memproduksi ribuan asesoris kerohanian gereja dalam sepekan. Pelanggannya banyak berasal dari luar daerah seperti Magelang, Surabaya, Kendari, Makassar, Medan, Kalimantan, dan Jakarta. Mulai dari komunitas gereja, hingga para penjual yang kulakan di tempat Mbah Sihono.

"Kalau di sini yang pesan tempat ziarah seperti Ganjuran, Bantul, dan Sendangsono," jelasnya.

Sekitar tahun 80-an harga satu kalung rosario hanya Rp 400. Sehingga banyak yang memesan dalam skala besar. Dalam memproduksi, ia dibantu pegawai yang mayoritas tetangga di wilayah rumahnya. Berapa pun pelanggan memesan, pasti ia turuti. Namun itu dulu.

Di usia senjanya kini, ia tidak mampu lagi memproduksi terlalu banyak. "Saya udah tua, jadi untuk sampingan. Menggergaji sendiri dan merangkai sendiri," ujarnya.

Sampai saat ini, ia masih memproduksi sejumlah kalung rosario dan salib, baik yang terbuat dari kayu maupun logam. Kalung rosario kecil hanya dihargai Rp 10 ribu, sedangkan ukuran besar mulai Rp 65 ribu. "Memang kalau mendekati Natal biasanya pesanan meningkat," tuturnya.

Salah seorang pelanggan asal Klaten rutin memesan 50 buah kalung rosario besar setiap minggunya kepada Sihono. Selebihnya, ia tidak mampu karena tenaganya banyak berkurang seiring bertambahnya usia.

Saat ini ia hanya mampu menghasilkan uang sekitar Rp 3 juta dalam sebulan. "Saya muslim, tapi ini menjadi pekerjaan utama saya. Bahkan bisa menghidupi istri dan anak," jelasnya.

Baginya, menjadi seorang perajin benda kerohanian gereja merupakan pilihan yang nyatanya mampu membuat ia dan keluarganya hidup. Saat ini ia hanya fokus mencari klangenan atau kesibukan untuk menemani masa tuanya yang hidup sendirian dalam satu rumah. (oso/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#kendari #salib #Kota Jogja #sendangsono #jigsaw #Mantrijeron #Magelang #asesoris #Klangenan #Kampung Minggiran Suryadiningratan #Mbah Sihono #Ganjuran #kayu #kalimantan #gereja #Sihono #Bantul #karya #mesin bubut #jakarta #kalung rosario #medan #Kerohanian Hindu Smansa (KHS) #Mesin #Kerajinan #makassar #surabaya