JOGJA - Balai Bahasa Yogyakarta (BBY) tahun ini meluncurkan 97 Buku Cerita Anak Berbahasa Jawa dan Indonesia. Program tersebut merupakan upaya mengenalkan Bahasa Jawa kepada anak usia dini melalui cerita lokal. "Tujuan peluncuran buku ini untuk mendukung program literasi dari pemerintah dan revitalisasi bahasa daerah serta penginternasionalan Bahasa Indonesia," ujar Kepala Balai Bahasa DIY Dwi Pratiwi di Gedung Pertunjukan UNY, Senin (23/12).
Buku yang diluncurkan merupakan diseminasi cerita anak dengan bahasa Jawa juga Indonesia. Bahkan, agar bahasa Jawa dan Indonesia mampu mendunia, pihaknya akan mengusulkan untuk diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Ini merupakan trobosan atau inivasi strategis dalam rangkan menumbuhkan minat baca anak.
Menurutnya, saat ini banyak anak-anak yang tidak akrab dengan bahasa Jawa. Buku tersebut menjadi alternatif dengan muatan cerita berbasis kearifan lokal dan cerita-cerita yang dekat dengan masyarakat. Sasarannya adalah anak usia dini mulai dari siswa SD hingga SMP.
Selama tiga tahun terakhir, BBY rutin meluncurkan buku cerita bahasa Jawa dan Indonesia. Pada 2022, mereka telah menerbitkan 22 judul buku. Bahkan beberapa sudah dalam versi bahasa Inggris. Tahun 2023 menerbitkan 97 judul dan 10 judul bersumber dari manuskrip BBY untuk mengenalkan naskah kuno dari Jogja yang memuat nilai luhur.
Tahun ini terdapat 97 judul buku yang diterbitkan. Salah satunya yakni bersumber pada manuskrip yang dikemas dengan tampilan komik. Selain itu, beberapa inovasi inklusi yang dikhususnya pada disabilitas netra dan tuli juga diluncurkan. "Bentuknya audio video dan visual walaupun baru lima judul buku," katanya.
Buku-buku yang diluncurkan terdiri atas 16 buku untuk pembaca jenjang dini di usia 0-7 tahun, 27 buku untuk pembaca jenjang awal usia 6-8 tahun, 36 buku untuk pembaca jenjang awal usia 8-10 tahun dan 18 buku untuk pembaca jenjang semenjana dengan usia pembaca 10-12 tahun. "Buku itu diharapkan dapat bermanfaat untuk mendukung tiga program prioritas Badan Bahasa, yaitu penguatan literasi, internasionalisasi bahasa Indonesia, dan revitalisasi bahasa daerah," tegasnya.
Salah satu penulis buku, Eti Daniastuti mengatakan beberapa tantangan dalam menulis buku tersebut salah satunya dalam pemilihan kosakata. Bahasa Jawa yang digunakan harus disesuaikan dengan kategori umur, dan itu menjadi tantangan tersendiri. Kosa kata perlu digali itu perlu kejelian. “Jadi kosakata yang dipilih sesuai dengan pemahaman anak," ujar Eti yang juga seorang Guru SD Percobaan 2 Depok Sleman itu.
Berbeda dengan cerita bahasa Indonesia yang secara penggunaan bahasa, sudah akrab dengan keseharian anak, ia menulis cerita dengan judul Kontul Ketingan yang lekat dengan Desa Wisata Ketingan di Sleman. Di desa tersebut bantak sekali flora khususnya burung kontul. “Selain mengangkat kekayaan alam, kami juga mengakat Dusun Ketingan sebagai dusun wisata," jelasnya. (oso/din)
Editor : Din Miftahudin