JOGJA - Nama Sate Ratu sudah sangat akrab bagi para pecinta kuliner nusantara. Restoran di Yogyakarta yang khas dengan menu sate ayam merah itu merupakan destinasi wisata kuliner hits dan terkenal di kalangan wisatawan. Bahkan bisa dibilang, belum lengkap datang ke Yogyakarta jika belum mencicipi Sate Ratu.
Perjalanan Sate Ratu hingga sepopuler sekarang tidak mudah. Jatuh bangun pernah dialami oleh Fabian Budi Seputro sebagai pemiliknya. Mulanya, Sate Ratu berawal dari bisnis angkringan. Kemudian kini jadi wisata kuliner jujugan pelancong dari berbagai daerah dan negara. Total sudah ada turis dari 104 negara yang mencicipi kuliner tersebut.
Budi mengatakan, Sate Ratu lahir dari nama Angkringan Ratu. Ya, sebelum terkenal sebagai pemilik Sate Ratu, Budi memang pernah membuka usaha angkringan bersama dengan beberapa temannya. Usaha tersebut dimulai sekitar 2016.
Pemilihan usaha angkringan bukan tanpa alasan. Kala itu Budi dan temannya melihat usaha angkringan cukup potensial. Lantaran menjadi ciri khas Yogyakarta dan berupaya membuat usaha angkringan yang berbeda. Yakni dengan kualitas food and beverages serta pelayanan yang lebih bagus dibandingkan angkringan pada umumnya.
Kemudian penamaan Ratu diambil karena memiliki kesan ke-Jawa-an dan ke-Jogja-an. Lagipula, nama Ratu juga merupakan posisi tertinggi bagi seorang perempuan. Di sisi lain, nama Ratu juga untuk menegaskan produk yang dijual memiliki kualitas premium. Seiring waktu berjalan Angkringan Ratu pun beralih usaha menjadi Sate Ratu.
Sate Ratu memiliki menu makanan spesial seperti sate merah, lilit basah, dan ceker tugel. Kuliner-kuliner yang ada di Sate Ratu terkenal dengan bumbunya yang menggugah selera dan potongan daging sate ayam yang besar. Makanan yang ada di Sate Ratu pun selalu cocok bagi lidah penikmat kuliner.“Untuk penikmat Sate Ratu memang cenderung lebih banyak wisatawan lokal dan luar daerah, selain itu juga turis mancanegara. Total sudah ada turis 104 negara yang mencicipi kuliner kami,” ujar Budi, Sabtu (14/12).
Kenikmatan kuliner yang disediakan oleh Sate Ratu pun bukan klaim semata. Berbagai penghargaan pernah diraih oleh warung makan yang beralamat di Jalan Sidomukti, Tiyasan, Condongcatur, Depok, Sleman ini. Misalnya, Juara Nasional kategori sate Ngulik Rasa yang diselenggarakan oleh Unilever Food Solutions (UFS) besutan PT Unilever Indonesia. Kemudian pernah masuk finalis Food Startup Indonesia 2018 yang diselenggarakan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).
Kemudian, bukti testimoni turis dari 104 negara pernah mencicipi Sate Ratu yang kini terpampang di area depan restoran. Selain itu, juga bisa dilihat review pelanggan dari aplikasi ojek online dan ulasan yang tersedia di Google Maps. Mayoritas menilai Sate Ratu merupakan kuliner nikmat dan memiliki pelayanan yang baik.
Budi menegaskan Sate Ratu hanya tersedia di Jalan Sidomukti, Tiyasan, Condongcatur, Sleman. Pemilik memang memilih untuk tidak membuka cabang untuk menjaga kualitas rasa makanan yang disajikan. Di satu sisi, Budi juga mengakui kalau dengan satu tempat memang lebih mudah dalam hal pengelolaannya.“Saya pun yakin dengan Sate Ratu di satu tempat juga dapat memperkuat konsep autentik yang saat ini terus kami upayakan,” tegasnya.
Di samping memberikan kuliner yang lezat, Sate Ratu pun berupaya untuk memberikan tempat makan yang nyaman bagi konsumen. Misalnya dengan memastikan tempat makan yang selalu bersih dan bebas dari air hujan. Selain itu juga didukung dengan karyawan yang selalu cekatan untuk mengantarkan menu ke meja pelanggan.
Sate Ratu terus berusaha meningkatkan pelayanan maksimal kepada pelanggan. Menurut Budi, Sate Ratu selama ini cukup dikenal karena keramahan dan interaksinya kepada pelanggan. Entah itu hanya sekadar mengobrol atau menawarkan pelayanan kepada pelanggan.“Itu menjadi poin plus dari Sate Ratu dan akan tetap dipertahankan,” ungkap Budi. (inu/din)
Editor : Din Miftahudin