JOGJA – Kenyamanan dan keamanan wisatawan akan menjadi perhatian utama Pemprov DIY. Terlebih lagi musim libur Natal dan tahun baru (Nataru) ini bersamaan dengan kondisi cuaca yang penuh kewaspadaan.
Menghadapi itu, mulai dari jumlah wisatawan, kendaraan serta cuaca realtime akan dipantau secara digital. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIJ dan Polda DIY telah memasang CCTV dan face recognition atau pengenal wajah di sejumlah titik." Harapannya, wisawatan tetap bisa berwisata dengab aman dan nyaman," ujar Plt Kepala Dinas Pariwisata Aira Nugrahadi, Selasa (17/12).
Menurut Aira, curah hujan tinggi akan mempengaruhi niat wisatawan yang akan berkunjung ke objek-objek wisata di DIY. Lantaran mereka tidak bisa melihat kondisi cuaca realtime di objek wisata yang akan mereka kunjungi."Inivasi yang kami lakukan yakni melalui CCTV realtime yang ada pada layanan Jogja Istimewa Televisi," tuturnya.
Monitor CCTV tersebut nantinya akan dipasang di lobby hotel, agar wisatawan yang menginap mudah mengakses. Untuk jumlah dan titik pemasangan pasti akan disampaikan pekan depan. Program tersebut berkolaborasi dengan Diskominfo DIJ."Wisatawan bisa menjadi tahu secara realtime lokasi tujuan wisatanya dalam kondisi cuaca seperti apa," terangnya.
Dia mencontohkan saat wisatawan menginap di sekitar Malioboro. Pada waktu itu di area Malioboro hujan, namun belum tentu di objek wisata lainnya juga hujan. Program itu membantu agar wisatawan tetap berkunjung ke objek wisata tujuan. "Banyak wisatawan memilih staycation (di hotel) karena tahunya hujan. Padahal di lokasi lain belum tentu," bebernya.
Tak hanya dari Dispar DIY, jajaran Polda DIY juga memanfaatkan teknologi untuk pendukung pengamanan Nataru. Wakapolda DIY Brigjen Adi Vivid Agustiadi menambahkan teknologi pengenal wajah atau face recognition juga akan dipasang di beberapa titik. Ada tujuh titik yang dipasang kamera face recognition ini. “Tidak bisa kami sebutkan lokasinya. Kamera akan memantau pergerakan wajah setiap orang yang masuk di wilayah tersebut,” ujarnya.
Fungsi teknologi tersebut salah satunya untuk mendeteksi data pengunjung dan memastikan wisatawan yang masuk ke DIY bukan buronan atau teroris. Itu juga memudahkan pihak kepolisian untuk menemukan orang yang melakukan tindak kejahatan."Kalau misalnya orang ini terdata bahwa ini buronan, teroris, pasti langsung dapat informasi dan kami lakukan upaya mitigasi," tuturnya.
Teknologi tersebut juga mampu menghitung jumlah orang dalam satu kawasan lengkap dengan jenis kelaminnya. Hal itu untuk memetakan potensi kepadatan agar potensi kemacetan bisa dikendalikan.Kalau sudah terjadi kepadatan, akan dialihkan. Misal di Titik Nol sudah terjadi kepadatan, silakan masyarakat dialihkan.”Nanti ada juga patroli jalan kaki anggota Polwan," jelasnya.(oso/din)
Editor : Din Miftahudin