AKSI SOSIAL: Dokter muda memeriksa gigi pasien saat pemeriksaan gratis dalam rangka Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) di Fakultas Kedokteran Gigi UGM, Sleman, kemarin (17/12). Pemeriksaan gigi gratis tersebut terdiri dari pencabutan gigi, perawatan gigi berlubang serta edukasi kesehatan gigi sebagai upaya membantu masyarakat untuk hidup sehat serta produktif.
Foto : Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
Karies gigi disebabkan oleh:
- Bakteri Streptococcus mutans yang berkembang biak di dalam mulut
- Sisa makanan yang menempel di permukaan gigi
- Makanan dan minuman yang asam
- Pola hidup yang tidak sehat, seperti sering mengonsumsi makanan manis
- Riwayat oral hygiene yang buruk
Gejala karies gigi yang umum adalah:
- Sakit gigi secara tiba-tiba
- Nyeri ringan sampai parah saat mengonsumsi makanan atau minuman manis, panas, atau dingin
- Gigi lebih sensitif
- Mulut terasa tidak sedap
- Ada noda cokelat, hitam, atau putih pada permukaan gigi
- Bau mulut
JOGJA – Gigi sensitif, gigi retak, gigi patah, hingga gigi berlubang atau karies, masih menjadi permasalahan umum pada gigi yang sering diderita masyarakat Indonesia.
Karies gigi adalah kondisi kerusakan gigi yang menyebabkan lubang, atau yang lebih dikenal dengan istilah gigi berlubang. Karies gigi terjadi ketika bakteri di dalam mulut menghasilkan asam yang merusak struktur gigi.
Dosen Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus ketua pelaksana Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) UGM 2024 drg Silviana Farrah Diba menyebutkan, karies gigi bila sudah dalam, maka perawatannya makin lama. “Jadi harus diperiksa atau ditambal sejak awal," katanya, Selasa (17/12).
Secara umum, seseorang yang mengalami karies gigi akan merasakan rasa sakit atau nyeri, ada lubang pada gigi, rasa sensitif berlebih terhadap makanan panas atau dingin, perubahan warna gigi, hingga adanya bau mulut yang tidak sedap.
Ada beberapa faktor penyebab gigi karies, antara lain adalah adanya bakteri, konsumsi gula dan karbohidrat berlebih, kurangnya menjaga kebersihan gigi, hingga kurangnya fluoride atau fluorida. “Yakni mineral alami yang dapat memperkuat gigi dan mencegah gigi berlubang,”tambahnya.
Selain itu, faktor genetik seperti keturunan, usia, kondisi medis, dampak atau efek konsumsi obat, hingga kebiasaan dan gaya hidup buruk juga menjadi beberapa penyebab permasalahan karies gigi."Idealnya itu melakukan kontrol rutin 6 bulan sekali, agar bisa mendeteksi dini setiap kemungkinan masalah pada gigi," pesannya.
Selain kontrol secara berkala, hal-hal preventif lain yang bisa dilakukan. Itu meliputi, sikat gigi secara rutin dua kali sehari, menggunakan benang gigi atau dental floss, hingga secara rutin menggunakan obat kumur antibakteri.
Selama BKGN ini, panitia menyediakanfree dental treatment hingga konsultasi gigi. Masyarakat bisa memanfaatkan ini sejak 17 Desember sampai 19 Desember 2024.
Salah satu mahasiswa UGM Nindita Fara mengakui, bahwa beberapa tahun terakhir permasalahan gigi jadi hal yang benar-benar diperhatikan dan dijaganya secara optimal.Nindita juga memanfaatkan kegiatan BKGN UGM 2024 ini. Saat ini, ia mengaku tidak memiliki permasalahan gigi yang signifikan, namun ia berujar ingin melakukan sesi konsultasi."Salah satunya konsultasi soal gigi impaksi, saya masih punya dua gigi impaksi yang belum dicabut," terangnya. (iza/din).
Editor : Din Miftahudin