JOGJA – Pemerintah telah menyalurkan sekitar Rp 327,2 miliar untuk menurunkan prevalensi stunting di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dana untuk program itu telah disalurkan melalui belanja kementerian/lembaga (K/L) dan transfer ke daerah (TKD).
Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Ditjen Perbendaharaan (DJPb) DIY Agung Yulianta menyampaikan, belanja K/L untuk menurunkan angka prevalensi stunting telah terealisasi Rp 17,28 miliar. Jumlah itu sama dengan 82,52 persen dari pagu Rp 20,64 miliar.
Program yang telah terealisasi melalui belanja K/L antara lain bimbingan keluarga sakinah/bahagia/hitta sukhaya, fasilitas dan pembinaan keluarga di bawah dua tahun, dan infrastruktur air minum berbasis masyarakat.
Intervensi gizi spesifik antara lain melalui kampanye konsumsi garam beryodium, ASI eksklusif, pemberian ASI sampai usia dua tahun dengan makanan pendamping ASI yang adekuat, dan imunisasi. Sementara intervensi gizi sensitif antara lain melalui air bersih, sanitasi, akses layanan kesehatan dan KB, JKN, Jampersal, pendidikan pola asuh dan gizi masyarakat serta edukasi kesehatan, seksual dan gizi kepada masyarakat.
“Serta kinerja belanja yang dialokasikan di tahun 2024 bisa efektif memberikan dampak kepada penurunan prevalensi stunting,” kata Iqbal.
Daerah di DIY yang masih memiliki rasio prevalensi stunting tinggi yakni Kabupaten Gunungkidul sebesar 22,2 persen; Kulon Progo 21,2 persen; dan Bantul 20,5 persen. (tyo)
Editor : Sevtia Eka Novarita