KULON PROGO - Kalurahan Sidomulyo Kapanewon Pengasih resmi mendapatkan predikat Kampung Siaga Bencana (KSB), kemarin (11/12). Peresmian ditandai dengan simulasi kesiapsiagaan bencana yang diikuti personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan masyarakat.
Dengan tambahan Kalurahan Sidomulyo, maka di Kulon Progo terdapat 17 kalurahan yang berstatus KSB. Sedangkan di seluruh DIJ terdapat 76 kalurahan KSB.
Dinas Sosial DIJ terus berupaya menggenjot kuantitas KSB di tahun ini. Ditargetkan 79 KSB terbentuk. Dengan harapan setiap kalurahan dapat menangani situasi bencana apabila terjadi.
Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsos DIJ Sigit Alfianto mengatakan, pembentukan KSB digunakan untuk mempersiapkan masyarakat yang siap siaga dengan bencana. Ketika bencana terjadi, masyarakat dapat langsung mengkondisikan, sambil menunggu bantuan dari pemerintah pusat."Sangat penting pada masa awal terjadinya bencana, tanpa harus menunggu pemerintah pusat," ucap Sigit, Rabu (11/12).
Baca Juga: Sebanyak 1.941 Peserta Bakal Seleksi PPPK Kabupaten Kebumen, Uji Kompetensi Digelar 14-16 Desember di Jogjakarta
Sebelum mendapatkan predikat KSB, kalurahan telah menjalani serangkaian kegiatan. Terutama personel Tagana dan masyarakat yang memiliki minat ikut serta sebagai relawan kebencanaan. KSB bukan hanya predikat saja, melainkan saat terjadi bencana proses penanganan perlu diimplementasikan. Mulai dari penyiapan sarana prasarana, seperti shelter, dapur umum, hingga tenda medis. Selain itu, masyarakat juga dilatih dalam melakukan evakuasi dan penanganan awal medis.
KSB Sidomulyo berhasil mendapatkan predikat setelah menjalani berbagai proses. Hal ini ditunjukkan saat penyerahan sertifikat yang diikuti dengan simulasi bencan. Simulasi bencana menggambarkan kondisi situasi bencana di Sidomulyo berupa longsor dan angin ribut.
Baca Juga: 1.112 Anak di Kabupaten Magelang Kembali Bersekolah. 382 di Antaranya Belum Mndapatkan Bantuan Dana
Dalam simulasi kondisi Kalurahan Sidomulyo terdampak bencana cukup parah. Petugas evakuasi yang merupakan masyarakat yang tergabung dalam KSB melakukan evakuasi. Sedangkan personil lainnya juga mulai mendirikan berbagai sarpras untuk keperluan pengungsi. Dalam KSB unsur kearifan lokal ditonjolkan dengan penggunaan alat sederhana sebagai pengganti drakbar, ataupun ketela pohon sebagai pengganti makanan pokok."Setelah simulasi ini, KSB akan melakukan latihan rutin dengan cakupan per padukuhan," tuturnya.
Baca Juga: HIPMI Siap Berkolaborasi dengan Pemkab, Kembangkan Potensi untuk Majukan Kabupaten Sleman di Masa Mendatang
Selain melakukan simulasi, KSB Sidomulyo juga mendapatkan bantuan berupa lumbung sosial. Sarana dari pemerintah provinsi dan pusat ini, dapat dimanfaatkan selama terjadi bencana. Lumbung sosial berupa bantuan uang tunai Rp 188 Juta, yang berasal dari pemerintah pusat Rp 180 Juta dan Pemerintah Provinsi DIJ Rp 8 juta. Selain uang tunai, lumbung sosial juga diwujudkan dengan bantuan sarpras, dan berbagai kebutuhan pendukung selama terjadi bencana.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah (Setda) Kulon Progo Jazil Ambar Wasan menyampaikan apresiasinya, lntaran KSB memang dibutuhkan Kulon Progo, dengan melihat potensi bencana yang mengancam."Untuk masa awal bencana, peran kalurahan dan masyarakat sangat dibutuhkan," ujarnya.
Baca Juga: Tips Aman Berkendara Saat Liburan Ala Honda Istimewa
Jazil menyampaikan, masyarakat dan kalurahan memegang peran kunci dalam penanganan bencana. Pasalnya, masyarakat leboh mengenal potensi dan penaganan bencana di daerahnya. Sehingga, apabila terjadi bencana masyarakat dapat langsung memitigasi dan dapat mengurangi korban jiwa. (gas/din)
Editor : Din Miftahudin