Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kendala Waktu hingga Jengah dengan Sistem Pemerintahan, Jadi Alasan Para Pemilih Muda Tak Berikan Suara saat pilkada

Agung Dwi Prakoso • Senin, 9 Desember 2024 | 05:12 WIB

 

ilustrasi pemilu damai
ilustrasi pemilu damai
 

  Angka partisipasi pemilih pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2024 lalu mengalami penurunan. Rendahnya antusiasme pemilih memunculkan kekhawatiran besar tentang legitimasi demokrasi, dampaknya pada kualitas kepemimpinan daerah, hingga efektivitas sistem pemilu yang ada.

Banyak alasan yang melatarbelakangi penurunan partisipasi ini. Salah satu pemilih, Permata (bukan nama sebenarnya) menyatakan sengaja tidak menggunakan hak suaranya. Itu dia lakukan bukan tanpa dasar. Menurutnya sistem pemerintahan harus membuka ruang setransparan mungkin agar masyarakat bisa melakukan kontrol dengan bebas."Karena mengganti pemimpin saja tidak cukup, pemimpin yang baik pun akan rusak jika sistemnya telah rusak," ujar perempuan kelahiran tahun 2000 itu.

Itulah alasan mengapa perempuan lulusan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu memilih golput. Namun, ia menyadari bahwa pilihannya itu mungkin tidak ada dampak yang berarti. Mungkin juga surat suara kosong yang tidak ia coblos bisa disalah gunakan."Tetapi untuk saya pribadi, golput sama dengan tidak mendukung sistem yang telah rusak," tegasnya.

Ia juga menilai para calon pemimpin yang dipilih hanya melibatkan masyarakat saat menjelang pemilihan. Suara rakyat itu hanya terpakai saat pemilihan. Setelah itu, nyatanya  masyarakat masih minim dilibatkan dalam penentuan kebijakan dan lainnya."Ketika pemimpin tahu benar dan salah, berpihak pada rakyat dan berani mengubah kebijakan yang tidak pro dengan rakyat itu cukup ideal sebagai pemimpin," jelasnya.

 

Berbeda dengan Rio (bukan nama sebenarnya), ia memutuskan tidak memilih karena keterbatasan waktu untuk bekerja. Beberapa perusahaan tertentu pada saat penyelenggaraan Pilkada memang tidak memberlakukan libur pada pegawainya."Mungkin itu juga untuk evaluasi bagi pemerintah. Jadi tidak hanya ASN saja yang libur, tapi seluruh perusahaan tanpa kecuali," ujarnya.

Ia juga menyoroti teman-temannya yang juga tidak sempat untuk memberikan hak suaranya karena bekerja. Mayoritas karena jarak tempat kerja yang cukup jauh, atau diluar kabupaten yang menjadikan mereka ribet untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)."Memang ketika istirahat bisa, tapi jauh dan eman bensin juga mending lanjut bekerja," bebernya.

Salah satu pemuda asal Sewon, Bantul Muhammad Rimbang mengaku alasan tidak memilih karena tidak mempunyai pilihan calon pemimpin yang cocok di Pilkada 2024 lalu."Tidak ada yang dipilih. Kalaupun ada yang dipilih, tidak mempengaruhi kenaikan gaji pekerja. Itu yang menurut saya sesuai fakta di lapangan pada tahun-tahun sebelumnya," ungkapnya.

Tidak hanya pada Pilkada 2024 ini saja, dia golput sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Menurutnya menyumbangkan hak suaranya pada calon pemimpin yang tidak mempunyai visi dan misi yang jelas itu juga tidak menguntungkan untuk warga.

Pemimpin yang bagus menurutnya adalah pemimpin yang tidak memikirkan dirinya sendiri. Tapi bisa memikirkan nasib rakyatnya. “Seperti menaikkan gaji para pekerja, baik pegawai negeri ataupun swasta," tegasnya.

Kendati demikian, secara pribadi Rimbang tetap menyatakan tidak akan mempertahankan untuk golput pada pemilu-pemilu yang akan datang. Tapi hal itu tergantung dari visi dan misi calon pemimpin yang akan datang, khususnya visi dan misi yang mengacu kepada kesejahteraan para pekerja. "Yang kemarin sepertinya kurang ada yang memperhatikan kesejahteraan para pekerja. Makanya saya tidak nyoblos," lontarnya. (oso/ayu/din).

Editor : Din Miftahudin
#golput #pemilih pemula #pencoblosan #27 November 2024 libur nasional #Pilkada Serentak 2024 #27 November 2024