RADAR JOGJA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah merilis 50 becak listrik untuk beroperasi di kawasan sumbu filosofis Malioboro beberapa waktu yang lalu.
Upaya untuk mendukung program low emission di kawasan sumbu filosofi.
"Becak itu sudah beroperasi di lapangan, tapi karena jumlahnya baru 40 jadi di lapangan masih bekum terlihat mendominasi," ujar Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan DIY, W. Sapto Nugroho kepada Radar Jogja, Selasa (3/12).
Menurutnya masyarakat masih banyak yang menanyakan operasional becak listrik tersebut.
Hal itu karena bentor (becak motor) masih mendominasi di wilayah Malioboro.
Itu juga menjadi catatan bagi Dishub DIY karena frekuensi operasional becak listrik masih jarang.
"40 becak listrik telah beroperasi, sisan 10 itu untuk cadangan," tuturnya.
Area operasional becak listrik memang difokuskan di sekitaran jalan Malioboro.
Walaupun area pangkalan becak listrik di Malioboro masih belum terlihat karena banyak yang berkeliling.
Antusiasme masyarakat juga cukup tinggi dalam merespon adanya becak listrik tersebut.
"Saat rilis dulu, langsung banyak permintaan dari masyarakat," bebernya.
50 unit yang dirilis tersebut belum bisa mengcover seluruh kebutuhan tranportasi becak di Malioboro.
Maka dari itu, ia berharap tidak hanya dari Pemprov DIY, namun pengadaan unit becak listrik bisa didukung oleh pihak swasta atau Pemerintah Kota Jogja.
"Contohnya melalui program CSR, ini kan sebagai stimulan bahwa ada kendaraan umum yang ramah lingkungan," jelasnya.
Selain mendukung program low emission di kawasan sumbu filosofi, becak listrik juga perlahan sebagai pengganti keberadaan bentor.
Bentor secara aturan juga tidak sesuai dan populasinya banyak.
"Hampir polulasi becak kayuh hilang tergantikan bentor, padahal justru becak kayuh lebih ramah lingkungan," tegasnya.
Komplain terkait becak listrik sejauh ini belum ada, lanjut Sapto, namun publikasi dan sosialisasi terkait keberadaan becak listrik masih perlu ditingkatkan.
Masyarakat luas harus tahu bahwa sudah ada angkutan umum yang ramah lingkungan.
"Apalagi ini momen libur Nataru, banyak wisatawan liburan ke Malioboro, mereka pasti akan lebih antusias," ujarnya.
Tarif becak listrik diserahkan ke para pengemudi dengan patokan jarak.
Pihaknya bertugas untuk mendorong wisatawan dan masyarakat dalam kemudahan menggunakan akses fasilitas tersebut.
"Monggo bijak dalam memilih angkutan, kalau becak ya pilih becak kayuh atau becak listrik. Terlebih becak kayuh secara feel lebih hangat bisa ngobrol dengan pengemudinya," tuturnya.
Sapto juga menghimbau bagi wisatawan yang berlibur ke Malioboro tetap mematuhi rambu lalu lintas.
Malioboro diperkirakan menjadi pusat kepadatan, maka wisatawan juga harus memarkirkan kendaraan sesuai peruntukannya untuk menghindari kemacetan.
"Dishub punyak Kantong parkir di Beskalan dan Ketandan, itu bisa dipergunakan," jelasnya.
Editor : Bahana.