JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menyebut intensitas hujan akan terus meninggi hingga tiga bulan ke depan. Masyarakat pun diimbau untuk waspada terhadap berbagai potensi bencana hidrometeorologi.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, berdasar gejala fisis dan dinamika atmosfer menunjukkan angin di wilayah Indonesia bagian ekuator bertiup dari barat daya. Kondisi itu mengindikasikan angin monsun Asia mulai aktif.
Hal tersebut juga membuat kondisi curah hujan cukup tinggi hingga tiga bulan ke depan. Sebab puncak musim penghujan tahun 2024/2025 kemungkinan terjadi pada Desember hingga Februari 2024.
Reni membeberkan, pada Desember curah hujan diprediksi berkisar 301 - >500 mm (kriteria menengah - sangat tinggi). Sementara sifat hujan bervariasi antara normal hingga atas normal.
Lalu untuk Januari 2025 curah hujan diprediksi berkisar 201 - >500 mm (kriteria menengah - sangat tinggi). Untuk sifat hujan bervariasi antara bawah normal hingga atas normal.
Kemudian untuk curah hujan Februari 2025 diprediksi berkisar 201 - 500 mm ( kriteria menengah - tinggi). Adapun sifat hujan bervariasi antara normal hingga atas normal.
“Durasi musim hujan 2024/2025 di DIY diprediksi bervariasi antara 19-21 dasarian. Kemudian akhir musim hujan diprediksi pada dasarian satu sampai tiga bulan Mei tahun 2025,” ujar Reni dalam keterangannya, Minggu (1/12).
Baca Juga: Prediksi Cuaca Awal Desember, BMKG Yogyakarta Sebut Hujan Guyur Seluruh Wilayah DIY
Dengan lamanya musim penghujan itu, Reni meminta agar masyarakat dan pemerintah lebih antisipatif terhadap berbagai potensi bencana ekstrem. Sebab selama musim penghujan akan disertai hujan lebat, angin kencang, puting beliung, dan potensi hujan es.
Kemudian selama puncak musim hujan juga perlu di tingkatkan kewaspadaan dan mitigasi bencana. Terutama pada wilayah-wilayah rawan banjir, tanah longsor dan angin kencang.“Perlu tindakan mitigasi bencana seperti membersihkan saluran-saluran air, memangkas dahan pohon, memastikan kekuatan baliho-baliho di jalan raya dan tindakan mitigasi bencana lainnya,” tegas Reni.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja menyampaikan, pihaknya sudah melakukan upaya antisipasi bencana hidrometeorologi. Misalnya dengan memastikan fungsi 23 early warning system (EWS) banjir yang terpasang pada sungai-sungai di Kota Jogja.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Menyebabkan Tanah Longsor hingga Pohon Tumbang, BPBD DIY Sampaikan Data Terkini
Selain itu, BPBD Kota Jogja juga telah membentuk Kampung Tangguh Bencana (KTB) pada seluruh kelurahan. Melalui KTB, harapannya masyarakat dapat lebih siap menghadapi bencana termasuk berbagai upaya penanggulangannya.“Kami juga menghimbau kepada seluruh warga Kota Jogja untuk meningkatkan kapasitas mitigasi bencana dengan mendeteksi setiap potensi kerawanan di sekitar lingkungan tempat tinggal,” tegas Nur. (inu)
Editor : Din Miftahudin