JOGJA - Tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada 2024 di DIJ disebut mengalami penurunan. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Jogja menyebut, ada berbagai faktor penyebabnya. Salah satunya sosialisasi yang kurang menyentuh semua kalangan.
Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Kota Jogja Siti Nurhayati mengatakan, penurunan partisipasi pemilih pada pilkada memang lumrah terjadi. Apalagi jika dibandingkan pemilu (pileg dan pilpres) lalu.
Menurutnya, salah satu faktor penurunan partisipasi pemilih dalam pilkada karena dalam pemilu, pemilih luar daerah bisa menggunakan hak suaranya. Sementara dalam pilkada, hak pilih hanya diberikan kepada masyarakat yang memiliki KTP Kota Jogja.
"Jika membandingkan pilkada dengan pemilu, pasti ada penurunan. Karena kalau pemilu dapil untuk pilpres seluruh Indonesia, jadi ada tambahan jumlah hak pemilih yang ada di Kota Jogja dari pemilih luar daerah yang memilih di Kota Jogja,” ujar Siti saat dikonfirmasi kemarin (28/11).
Ia pun mengungkap, kondisi pemilih di Kota Jogja sendiri juga mayoritas banyak yang bekerja atau berdomisili di luar daerah. Sehingga ada kemungkinan pemilih di Kota Jogja memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya di Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Meskipun demikian, dia enggan berspekulasi soal tingkat penurunan partisipasi pemilih. Sebab masih ada tahap rekapitulasi suara dari masing-masing kemantren guna melihat data pasti apakah partisipasi pemilih benar-benar menurun atau tidak. "Setelah tanggal 1 Desember 2024l baru kami tahu menurun atau tidak," bebernya.
Disinggung soal kemungkinan minimnya sosialisasi dari penyelenggara pemilu, Siti menyebut hal itu masih relatif. Lantaran KPU Kota Jogja sebenarnya sudah melakukan sosialisasi hingga tingkat bawah. Namun diakui, ada beberapa keluhan sosialisasi soal pilkada kurang menyasar masyarakat penyandang disabilitas.
Siti menilai, KPU Kota Jogja cenderung mengejar partisipasi pemilih pada tahapan debat publik. Salah satunya melalui kegiatan nonton bareng (nobar) di 45 kelurahan.
"Meskipun kami juga tahu di agenda nobar itu juga tidak sesuai target. Misal penontonnya seratus, namun yang datang tidak sampai segitu,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua KPU Kota Jogja Noor Harsya Aryo Samudro menyampaikan, tingkat partisipasi pemilih di DIJ dari hasil hitung cepat menyentuh 67,9 persen. Angka itu mengalami penurunan sebesar tiga persen dibandingkan pilkada sebelumnya.
Harsya menilai, tren penurunan partisipasi pemilih juga merata dan terjadi di seluruh kabupaten/kota DIJ. Meskipun demikian, pihaknya juga belum dapat melakukan evaluasi karena masih harus menunggu hasil rekapitulasi suara dari tiap kemantren.
Sebagai informasi, dalam Pilkada 2024 Kota Jogja memiliki jumlah pemilih tetap 320.594. Dari hasil hitung cepat, hanya 206.785 pemilih yang menggunakan hak suaranya. Sementara 113.809 pemilih diketahui tidak hadir atau mencoblos ke TPS.
"Untuk evaluasi kami menunggu adanya pertemuan dengan dengan stakeholder terkait. Sekarang bukan saatnya evaluasi, karena kami masih menunggu data dan fakta,” katanya. (inu/laz)
Editor : Heru Pratomo