Catat 1.234 Kasus TBC Hingga Bulan November, Dinkes Kota Jogja: Masih Bisa Bertambah hingga Akhir Tahun

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Selasa, 26 November 2024 | 21:45 WIB
Ilustrasi seseorang yang mengalami penyakit TBC.
Ilustrasi seseorang yang mengalami penyakit TBC.

JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja mencatat ribuan kasus tuberculosis (TBC) hingga bulan November ini. Kasusnya pun berpotensi bisa terus bertambah hingga akhir tahun. Bahkan dapat melampaui temuan tahun sebelumnya.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan, hingga tanggal 21 November 2024 pihaknya mencatat sudah ada 1.234 temuan kasus TBC. Jumlah itu hampir mendekati catatan tahun 2023 dengan jumlah 1.690 kasus.

Endang menyebut, kasus TBC di Kota Jogja juga berpotensi lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Sebab capaian di tahun 2023 merupakan catatan hingga akhir tahun.

“Jumlah tahun ini cukup banyak dibandingkan dengan tahun 2023, karena jumlahnya masih bisa bertambah sampai akhir tahun 2024,” ujar Endang, Selasa (26/11).

Dia melanjutkan, bahwa musim pancaroba seperti sekarang juga berpotensi terhadap risiko penularan penyakit. Lantaran dapat mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh di masyarakat. Sehingga rentan terhadap berbagai penyakit infeksi termasuk TBC.

Oleh karena itu, Dinkes Kota Jogja pun menghimbau kepada masyarakat agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Serta bagi penderita diharapkan bisa rutin melakukan cek kesehatan di puskesmas atau rumah sakit.

Endang pun memastikan, bahwa Pemkot Jogja juga telah menyediakan layanan pemeriksaan dan pengobatan TBC di 18 puskesmas dan rumah sakit pemerintah. Masyarakat pun bisa memanfaatkan layanan tersebut secara gratis.

Dijelaskan, orang dengan terinfeksi TBC biasanya diawali dengan beberapa gejala. Meliputi batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, demam, dan berkeringat di malam hari. 

Penyakit TBC juga mudah menular. Apalagi pada kelompok resiko tinggi seperti anak-anak, orang dengan HIV/AIDS dan penderita diabetes melitus.

“Jika penderita tidak segera ditangani, penyakit ini dapat berakibat fatal,” tegas Endang.

Secara terpisah, Kepala Puskesmas Mantrijeron Eny Purdiyanti mengungkap, jumlah penderita TBC di wilayahnya mencapai 16 orang hingga tanggal 22 November 2024. Sehingga pihaknya pun rutin melakukan sosialisasi melalui pertemuan langsung maupun sosial media.

Disamping itu, puskesmas juga melakukan koordinasi dengan jejaring atau fasilitas pelayanan kesehatan yang ada di wilayah terkait. Sehingga penanganan TBC bisa dilakukan investigasi terkait kontak jika ditemukan kasus TBC.

“Jika ditemukan kasus maka akan segera dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut,” terang Eny. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
Kota Jogja dinas kesehatan tbc tubercolosis