JOGJA - Beberapa wilayah di DIY terdampak bencana hidrometeorologi yakni cuaca ekstrem berupa angin kencang dan hujan lebat. Menanggapi hal itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY memutuskan untuk memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Perpanjangan status ini dari 24 November hingga 2 Januari 2025.
Kepala Pelaksana BPBD DIY Noviar Rahmad menjelaskan, perpanjangan status itu juga didasari dengan peringatan dini yang diterbitkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta. BMKG menyebut puncak musim hujan diperkirakan sampai Februari 2025. Peta yang dikeluarkan oleh BMKG, menunjukkan hampir seluruh wilayah di DIY terjadi hujan."Nanti kami lihat dulu sampai Januari, saumpama curah hujan masih tinggi, kami perpanjang lagi," bebernya.
Baca Juga: BPBD Bantul Catat Ada Tujuh Pohon Tumbang dan Gerakan Tanah di Empat Lokasi akibat Hujan dan Angin Kencang
Noviar berharap, setelah mengajukan perpanjangan status tersebut, akses penggunaan anggaran APBD dapat mudah diakses. Hal itu untuk mempersiapkan fasilitas tambahan penanganan dampak bencana yang waktu dan dampaknya tidak menentu.BPBD bersama komponen terkait maupun masyarakat tetap melaksanakan kesiapsiagaan menghadapi ancaman potensi bencana selama musim hujan.
Baca Juga: Pohon dan Baliho Ambruk Diterpa Angin Kencang, BPBD Sleman Catat Ada 26 Kejadian di Empat Kapanewon
Rencana pemasangan kawat bronjong di beberapa daerah yang berpotensi mengalami longsor juga telah dilakukan. Stok bronjong saat ini sudah habis dan sedang dalam proses pengajuan tambahan.Bronjong itu disediakan BPBD dan yang memasang relawan dan masyarakat.
Total 200 bronjong yang telah didistribusikan selama status siaga bencana hidrometeorologi yang pertama. Kebanyakan didistribusikan di daerah Bantul dan daerah yang rawan longsor. BPBD minta tambahan lagi 500 unit. (oso/din)