JOGJA – Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah mengalami deflasi sebanyak lima kali sepanjang 2024 ini. Angka deflasi bulanan masing-masing sebesar 0,02 persen pada Januari, 0,08 persen pada Mei, 0,25 persen pada Juni, 0,03 persen pada Juli, dan 0,10 persen pada September.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Ibrahim mengungkapkan, ada tiga komponen utama yang mempengaruhi inflasi. Yaitu inflasi inti (core inflation), volatile food (komoditas pangan yang berfluktuasi), dan harga yang diatur oleh pemerintah. Yang pergerakannya melambat cukup tajam adalah kelompok volatile food. “Ini terjadi karena tahun lalu harga pangan sangat tinggi dan tahun ini relatif turun karena panen hortikultura cukup banyak, sementara permintaannya sama,” katanya, Minggu (24/11/2024).
Menruutnya, penurunan harga ini merupakan normalisasi setelah periode kenaikan harga yang tajam sebelumnya. Pasokan yang lebih banyak daripada permintaan menyebabkan terjadinya penurunan harga. "Kalau dibalikkan ke tahun-tahun sebelumnya, memang ada normalisasi khususnya komponen volatile food seperti cabai dan bawang," tuturnya.
Ibrahim mengatakan, dari sisi konsumsi banyak faktor yang mempengaruhi. Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Triwulan III 2024, DIY tercatat tumbuh 5,05 persen tahunan. Lebih tinggi dari rata-rata nasional dan merupakan yang tertinggi di Pulau Jawa. “Menandakan konsumsi masyarakat masih tumbuh. Walaupun terjadi perlambatan tapi tidak sampai minus. Esensinya adalah masih tumbuh,” ujarnya.
Dia mencontohkan, pada triwulan IV ini pendapatan meningkat sebesar Rp 100 Ribu. Sementara pada triwulan sebelumnya ada kenaikan pendapatan sebesar Rp 150 Ribu. Meskipun kenaikan kali ini lebih kecil, namun tetap menunjukkan adanya pertumbuhan. "Yang kami khawatirkan adalah jika daya beli sampai minus," ucapnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Herum Fajarwati menyatakan, pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan III 2024 menunjukkan hasil yang baik. Sumber utama pertumbuhan ekonomi berasal dari sektor konstruksi. Itu berkat masih berlanjutnya beberapa proyek strategis nasional (PSN) di DIY. "Di antara provinsi-provinsi lain di Pulau Jawa, DIY mencatatkan pertumbuhan tertinggi, bahkan melebihi angka nasional," katanya. (tyo/din)
Editor : Din Miftahudin