JOGJA - Kineidoscope yang merupakan salah satu ajang inspiratif dalam dunia perfilman, kembali menghadirkan program bertajuk Layar Muda Mendunia. Program tersebut salah satunya mengahdirkan karya-karya said mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Perwakilan dari Prodi Ilmu Komunikasi UMY Budi Dwi Arifianto menerangkan, Layar Muda Mendunia tersebut total menampilkan sembilan film karya mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi (Ilkom) dan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UMY."Program ini jadi apresiasi terhadap tugas akhir mahasiswa, dalam mata kuliah terkait perfilman di masing-masing prodi," katanya, Minggu (24/11).
Budi menerangkan, film-film tersebut tidak hanya berfokus untuk menampilkan kreativitas visual semata, tetapi juga menyampaikan berbagai pesan sosial yang relevan.Ini penting karena bisa memberi pengalaman berharga, baik bagi mahasiswa pembuat film maupun penonton.
Budi menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Kineidoscope, karena telah memberi dukungan secara nyata terhadap karya para mahasiswa. Dia sangat apresiasi Kineidoscope yang memberi ruang bagi karya-karya mahasiswa ini."Program ini menjadi bentuk nyata bahwa karya para mahasiswa bisa diapresiasi lebih luas," ujar dosen yang juga menjadi pengurus Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ini.
Program Layar Muda Mendunia tidak hanya memberikan pengalaman dalam pembuatan film, tetapi juga mengenalkan aspek penting dalam distribusi. "Mahasiswa jadi belajar bahwa proses tidak berhenti di produksi, tetapi film dapat bertemu dengan penontonnya. Ini pengalaman yang sangat berharga," jelasnya.
Adapun, selain film dari mahasiswa UMY, ada juga beberapa film yang diputar di agenda tersebut. Termasuk juga adalah film dari negara Malaysia, Portugal, dan Kyrgyzstan.
Perwakilan dari Alternativa Film Project, sebuah festival film dari Kyrgyzstan, Misha berujar, dapat bekerjasama dengan Kineidoscope menurutnya jadi kebahagiaan tersendiri.Menurutnya, kerjasama ini merupakan langkah penting untuk memperkenalkan budaya dari Kyrgyzstan ke wilayah Asia Tenggara. "Kami tertarik dengan film-film Asia Tenggara. Secara cerita, ada banyak kesamaan dengan film dari Kyrgyzstan, terutama folklore dan tradisi budaya," ujar Misha.
Ia juga menambahkan, bahwa budaya Kyrgyzstan memiliki banyak kesamaan dengan budaya di Asia Tenggara, sehingga menjadi alasan kuat untuk memperluas jaringan festival ke kawasan ini. "Setahun ini, kami terima sekitar 300 submission dari filmmaker Asia Tenggara. Ini membuktikan besarnya potensi kawasan ini untuk terus berkolaborasi," sambungnya.
"Film-film mereka jadi cerminan kehidupan dan nilai-nilai yang punya relevansi universal, jadi mudah diterima oleh penonton internasional," tandasnya (iza/din).
Editor : Din Miftahudin