Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Melihat Rentetan Kasus Bunuh Diri di Kulon Progo, seperti Gunung Es, Perlu Kajian dan Penanggulangan Intensif untuk Mencegah

Anom Bagaskoro • Senin, 18 November 2024 | 14:30 WIB

 

Ilustrasi bunuh diri
Ilustrasi bunuh diri

JOGJA - Masyarakat dikejutkan dengan serentetan kasus bunuh diri di Kulon Progo. Ya, dalam selama sepekan terjadi empat kali orang mengakhiri hidup, tiga kasus di antaranya terjadi di satu kapanewon yang sama. Fenomena apa ini?

Kendati data menunjukkan tak ada kenaikan di tahun sebelumnya, fenomena bunuh diri menjadi kekhawatiran. Pasalnya, rentetan kasus bunuh diri ini berpotensi menginspirasi orang lain untuk melakukan hal sama.

Kasihumas Polres Kulon Progo AKP Triatmi Noviartuti menyampaikan sejumlah rentetan kasus bunuh diri. Pelaku bunuh diri mengakhiri hidup dengan berbagai cara. Kasus yang cukup menampar pihak kepolisian, saat adanya personelnya yang nekat bunuh diri dengan senjata api pada September lalu. "Data saat ini menunjukkan ada sembilan  kasus bunuh diri. Paling banyak di bulan November,"  ujarnya.

Ia menjelaskan, motif bunuh diri sebagian besar karena masalah depresi. Alasan depresi pelaku dilatar belakangi berbagai faktor, seperti faktor ekonomi hingga masalah keluarga. Cara pelaku menghabisi nyawanya didominasi dengan gantung diri.

Senada dengan AKP Novi, Kepala Dinkes Kulon Progo Sri Budi Utami membenarkan fenomena bunuh diri di Kulon Progo. Bahkan ia menyebut ada potensi kenaikan angka bunuh diri, walaupun data sementara masih di bawah angka tahun 2023.

Potensi kenaikan dapat terjadi melihat rentetan kasus selama sepekan terakhir. "Fenomena ini perlu perhatian khusus, tetapi tidak boleh dibesar-besarkan atau di-blow up," ujarnya.

Budi menyampaikan, secara psikologis kasus bunuh diri dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Ia mencontohkan apabila di suatu kapanewon terjadi bunuh diri dan dibesar-besarkan melalui berbagai media serta obrolan, membuat informasi meluas.

Hal ini justru dapat menginspirasi orang lain yang kebetulan saat itu juga terbesit melakukan bunuh diri. "Secara psikologinya ada, karena mungkin memiliki kesamaan keadaan pelaku bisa terinspirasi," ujarnya.

Dinkes menilai, kasus bunuh diri seperti gunung es. Lantaran kasusnya terlihat kecil di permukaan, namun sebenarnya potensinya tak bisa terdeteksi. Sehingga diperlukan kajian intensif serta penanggulangan untuk mencegah bunuh diri.

 

Kasus bunuh diri di Kulon Progo dinilai akibat beberapa faktor. Pertama, pelaku bunuh diri mengidap penyakit kronis. Kedua, pelaku memiliki masalah ekonomi. Ketiga, pelaku memiliki riwayat gangguan jiwa. Keempat, pelaku mengalami perundungan.

Faktor itulah yang menjadi motif di balik nekatnya pelaku mengakhiri hidup. Mereka memilih jalan pintas, karena merasa tak memiliki cara keluar dari masalah hidupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial PPPA Kulon Progo Bowo Pristiyanto menyampaikan pihaknya berupaya ikut serta dalam menekan angka bunuh diri. Dinsos PPPA telah menyiapkam berbagai program penanganan bunuh diri.  "Kami punya pekerja sosial, tentunya memiliki ilmu psikologis yang siap mendampingi," ujarnya.

Dalam mencegah terjadinya kasus bunuh diri, Dinsos PPPA memiliki program "Sapa". Tak hanya mengurus tentang kekerasan anak dan perempuan, program "Sapa" juga mengangkat isu pencegahan kasus bunuh diri.

Masyarakat yang terbesit untuk bunuh diri atau dalam kondisi depresi, dapat memanfaatkan program ini. Program ini ada karena depresi menjadi motif utama bunuh diri. Sedangkan orang yang mengidap depresi akut, biasanya tak memiliki ruang bercerita dan mengeluarkan uneg-unegnya.

"Dalam hidup tidak semua menyenangkan. Jadi kami sediakan ruang untuk bercerita agar mengurangi beban pikiran," ujarnya.

Bowo menyampaikan, apabila terjadi kasus bunuh diri pihaknya juga melakukan pemantauan khusus. Pasalnya, keluarga yang ditinggalkan juga berpotensi mengalami depresi yang dapat membuat kejadian bunuh diri terulang. Pihaknya menyiapkan pendampingan secara tertutup untuk mencegah terjadinya kasus bunuh diri. (gas/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#faktor ekonomi #polres kulon progo #masalah keluarga #depresi #Kulon Progo #angka #kasus bunuh diri #Dinkes Kulon Progo #fenomena #gunung es #masyarakat #Mengakhiri hidup