Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ngamen Online: Respons terhadap Krisis Ekonomi atau Pencarian Keuntungan Instan?

Gunawan RaJa • Sabtu, 16 November 2024 | 01:32 WIB
(Doc pribadi Achmad Uzair untuk Radar Jogja)
(Doc pribadi Achmad Uzair untuk Radar Jogja)

JOGJA - Fenomena ngamen online di berbagai platform digital kini semakin menjadi sorotan. Aktivitas memanfaatkan aplikasi streaming demi uang, dipandang sejumlah pakar sebagai respons terhadap krisis sistem ekonomi yang tengah melanda masyarakat.

Sosiolog Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Achmad Uzair mengatakan fenomena ngamen online bisa dilihat sebagai 'warning' terkait ketidakstabilan ekonomi. 

“Menjadi sinyal sistem ekonomi sedang tidak baik-baik saja,” kata Achmad Uzair pada Jumat (15/11/2024).

Diakui ngamen online memberikan peluang bagi individu memperoleh penghasilan melalui hobi atau keterampilan. Namun tidak sedikit terjebak dalam pencarian keuntungan instan, tanpa memperhatikan nilai estetika dari seni itu sendiri. 

“Fenomena demikian menunjukkan bagaimana individu mencoba memanfaatkan ruang digital untuk meraih pendapatan. Namun, seringkali yang lebih ditekankan aspek finansial, bukan apresiasi terhadap seni,” ucapnya.

Meski tak sedikit yang berhasil memperoleh keuntungan, tidak semua pelaku ngamen online berhasil mengembangkan ekspresi seni mereka dengan baik. Sebagian besar hanya fokus pada pencarian uang receh. Terutama bagi mereka yang tidak memiliki akses pada modal atau fasilitas lebih besar mengembangkan keterampilan seni lebih mendalam.

“Ngamen online sering dipandang hanya sebagai cara cepat mengumpulkan uang, bukan sebagai ekspresi keseriusan seni,” jelasnya.

Meski demikian, fenomena ngamen online tetap menunjukkan bahwa di balik kebutuhan finansial, ada sebagian orang dengan tulus dalam mengekspresikan seni mereka. 

"Bagi mereka, ngamen online adalah bentuk ekspresi. Juga memiliki makna mendalam, meskipun tak selalu diakui oleh masyarakat," bebernya.

Pihaknya menggarisbawahi pentingnya peran pemerintah dan pihak terkait membuka pintu bagi para pelaku seni dalam dunia digital. Misalnya diadakan festival budaya atau menyediakan platform-platform digital, pro perkembangan seni dan budaya. 

Baca Juga: Masuk Musim Hujan Wajib Waspada! Kasus DBD di Kota Jogja Naik Signifikan dan Pasien Didominasi Anak-Anak

“Pemerintah dan berbagai pihak perlu membuat ruang lebih baik demi mendukung ekspresi seni dan budaya, bukan hanya sebagai sarana pencarian keuntungan,” tegasnya.

Tantangan besar kedepan adalah mengubah persepsi masyarakat terhadap kreativitas. Banyak orang masih memandang seni dan budaya dengan sebelah mata, menganggapnya sepele dan kurang penting. 

"Padahal, jika diberikan dukungan dan kesempatan, ekspresi seni bisa berkembang lebih jauh dan memberi dampak positif bagi masyarakat," tegasnya.

Fenomena ngamen online, meskipun masih menghadapi banyak tantangan, menunjukkan bahwa seni dan ekonomi digital bisa berjalan seiring. Dengan apresiasi, ekosistem ekonomi kreatif diyakini dapat berkembang menjadi sektor lebih inklusif dan bermanfaat.

“Ngamen online menggambarkan bagaimana seni dan ekonomi digital dapat saling mendukung. Namun, kita masih membutuhkan perubahan dalam cara pandang masyarakat terhadap nilai seni itu sendiri,” ujarnya. (gun)

 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#ngamen #Online #sosiologi #Instan #UIN Sunan Kaijaga