Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mbok Yem Segera Berangkat Umrah ke Tanah Suci, Para Santri Alumni Pondok Krapyak Galang Donasi

Din Miftahudin • Rabu, 13 November 2024 | 03:33 WIB

 

 

 

KH Henry Sutopo (kanan) bersama Mbok Yem.
KH Henry Sutopo (kanan) bersama Mbok Yem.

 

JOGJA- Santri Krapyak lawasan tentu sangat familier dengan Warung Mbok Yem di sebelah Selatan Masjid Almunawwir, Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak.

Mereka sangat terbantu dengan keberadaan warung sederhana ini. Menunya sesederhana bangunannya. Harganya murah meriah sesuai kantong para santri.  Bahkan tidak sedikit yang makan dulu, bayar belakangan.

KH Drs Henry Sutopo merupakan satu di antara santri yang pernah merasakan sangat terbantu keberadan Warung Mbok Yem ini. Ulama, penceramah, pengusaha dan tokoh NU ini juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Krapyak. Beliau merupakan santri dari KH Ali Maksum dan dikenal sebagai sosok kiai yang selalu memberikan pencerahan bagi kehidupan masyarakat.

Bagi KH Henry Sutopo, Mbok Yem orangnya lugu polos. Nampak keikhlasan dari wajahnya. Saat ini Mbok Yem masih sehat rajin berjamaah di masjid dan aktif mendatangi majelis ta'lim di usia lebih 80 tahun. Mbok Yem menjual makanan untuk santri tidak ada niat cari untung. “Yang penting bisa nunut makan dan dapat barokahnya para santri,” ujarnya.

Nah, berangkat dari kesan itu KH Henry Sutopo mengusulkan kepada para santri alumni Krapyak untuk memberangkatkan Mbok Yem pergi umrah. Di benaknya, betapa bahagianya Mbok Yem kalau bisa naik pesawat pergi umrah melihat Kakbah. Mumpung Mbok Yem masih sehat , dia mengetuk hati para sesepuh, para kiai para pimpinan pondok pesantren, santri alumni Krapyak yang pernah merasa terbantu dengan Warung Mbok Yem urunan memberangkatkan umrah dengan membuka donasi.”Mari kita bantu seikhlasnya buat Mbok Yem agar dapat melaksanakan umrah. Mbok Yem tulus dan ikhlas melayani kita semua waktu masih mondok di Krapyak,” tambah KH Henry, penulis buku Catatan Seorang Santri ini.

Mbok Yem
Mbok Yem

Menurutnya, Mbok Yem itu bukan guru. Dia hanya orang kampung yang kebetulan rumahnya dempet dengan pondok. Mbok Yem tidak pernah mengajarkan kitab kuning. Juga tidak pernah ngawasi santri musyawaroh. Mbok Yem tidak kenal dhomir. Namun dia termasuk shohibut dhomir. Orang yang memiliki hati. Punya keikhlasan dalam memastikan perut santri tidak kelaparan.

Baca Juga: Ribuan Santri Gelar Aksi Damai di Polda DIY, Buntut Kekerasan yang Menimpa Santri Krapyak: Begini Tuntutannya

Mbok Yem rela menjadi bagian kehidupan santri sepanjang perjalanan santri menuntut ilmu di Krapyak. Mbok Yem kerjanya membuka warung makan menyediakan keperluan santri sehari hari. Mestinya Mbok Yem kaya karena umumnya jualan nasi untungnya besar. Tapi sepertinya nawaitu Mbok Yem tidak mencari keuntungan layaknya penjual lainnya. Beliau hanya ingin kehidupan beliau berjalan lancar bisa makan menghidupan keluarganya. Mbok yem sudah menganggap santri adalah bagian dari keluarganya sendiri.”Beliau sering memanggil anak lanang kepada santri yang datang mau makan,” tambahnya.

Menu telur dadar, tempe goreng, kadang tahu, dan tentunya kerupuk adalah menu sehari-hari yang tersaji. Sayur masakannya rasanya beda, seperti halnya beda nawaitu beliau membuka warungnya. Mbok Yem orang baik. Orang ikhlas berhati ikhlas. Beliau seorang pengamal dhomir yang sesungguhnya. Beliau adalah guru dhomir yang sesungguhnya bagi santri. Di setiap butiran nasi yang dimakan santri menyerahkan dhomir, hati sanubari santri.

Di dinding-dinding warungnya, terdapat sejumlah kalender yang terpasang. Kalender-kalender ini bukan sembarang kalender. Ada banyak nama-nama yang sekarang menjadi kiai besar. Bahkan sudah sejak lama ada banyak group yang mengatasnamakan "Mbok Yem Lovers".

Nah, kapan Mbok Yem akan berangkat Umrah, KH Henry belum memastikan waktunya. Namun dia memastikan segera berangkat ditemani anaknya.”Hari ini tadi kami sudah bertemu,” tambahnya.

Haerul Maulana selaku koordinator pengumpulan donasi untuk mengumrahkan Mbok Yem mengatakan, pengumpulan donasi memang baru berlangsung sekitar dua hari ini. Sejauh ini sudah terkumpul sekitar Rp 50 Juta. Dia belum bisa memastikan sampai kapan pengumpulan donasi dilakukan.”Ini masih terus berjalan. Nanti kalau sudah fix semua, kami informasikan,” jelasnya.

Sejumlah santri alumni Krapyak mengaku banyak mengenang masa-masa nyantri dan makan di Warung Mbok Yem. Di antaranya Muhammad Idris Ramadhan yang menyebut Mbok Yem favoritnya semua santri. Ahmad Habibi Noeswantoro yang menyebut Mbok Yem, mboknya para santri Krapyak.

Pengakuan juga datang dari Dr H Dzanurussyamsi MH. Hakim di Pengadilan Agama Surakarta ini juga santri alumni Krapyak. Baginya, Mbok Yem itu orangnya no problem. Tidak itungan. Mbayare sesuk ae ra popo. Gak mikir bathi. “Hidup apa adanya dan yang penting santri wareg dan iso mangan,” ujarnya.(din)

 

Editor : Din Miftahudin
#umrah #warung makan #Ponpes Al Munawwir Krapyak #Sederhana dan Merakyat #santri