JOGJA – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY mewaspadai peredaran uang palsu menjelang Pilkada 2024. Beredarnya uang palsu dinilai dapat menimbulkan inflasi yang mengancam pertumbuhan ekonomi.
Kepala Perwakilan BI DIY Ibrahim mengatakan, meskipun masih ada peredaran uang palsu di masyarakat, tren penggunaan uang palsu di DIJ dan secara nasional terus mengalami penurunan.
Jumlah uang palsu yang beredar di masyarakat saat ini sangat kecil jika dibandingkan dengan periode sebelumnya. Angka peredaran uang palsu yang tercatat, meskipun tidak disebut secara rinci, menunjukkan penurunan.
Jika sebelumnya, peredaran uang palsu bisa mencapai sekitar 6 lembar per 1 juta lembar uang yang beredar, kini angkanya disebut turun menjadi sekitar 5 lembar. Pihaknya tidak melihat pecahannya (nominal), karena itu bukan uang sebetulnya. “Itu kertas yang menyerupai uang rupiah, jadi kami sebutnya lembaran uang kertas,” katanya, Selasa (12/11).
Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan tersebut adalah peningkatan fitur keamanan pada uang rupiah yang dikeluarkan oleh BI. Dengan fitur-fitur keamanan yang lebih canggih dan mudah dikenali oleh masyarakat, diharapkan peredaran uang palsu dapat semakin terkendali.“ Masyarakat mudah mengenali,” ujarnya.
Di samping itu, BI dan lembaga terkait juga semakin gencar melakukan sosialisasi mengenai cara mengenali uang palsu kepada masyarakat. Sosialisasi ini dilakukan melalui program Cinta, Bangga, Paham Rupiah (CBP). Melibatkan lembaga pendidikan hingga dinas-dinas terkait di berbagai lapisan masyarakat. “Jadi strateginya meningkatkan fitur keamanan di uang dan edukasinya kami gencarkan,” jelas Ibrahim.
Meski peredaran uang palsu mengalami penurunan, BI DIY tetap mewaspadai potensi peredaran uang palsu yang biasanya meningkat menjelang momen-momen penting. Salah satunya Pilkada 2024. Namun hingga saat ini, BI DIJ mengaku belum menerima laporan signifikan terkait peningkatan peredaran uang palsu menjelang pilkada. (tyo/din)
Editor : Din Miftahudin